Ini adalah kisah tentang sebuah momen dalam serangkaian momen di kehidupan, mungkin memang jarang sekali terjadi. Bisa jadi hanya sekali dalam jutaan peristiwa, tapi bukan tidak mungkin terjadi. Tentang kesedihan yang amat mendalam, tentang kepercayaan yang terkoyak, dan balasan atas apa yang telah terjadi. Semua perbuatan memang akan mendatangkan hasilnya sendiri-sendiri kepada siapa yang melakukannya. Ini bukanlah sebuah kesalahan, melainkan takdir yang harus dijalani setiap manusia. Kita harus mengakui bahwa sedari kecil kita dicekoki oleh pepatah yang mengatakan bahwa "manusia itu adalah tempatnya salah dan khilaf". Sejujurnya aku setuju dengan hal itu. Jika kita ini sempurna mengapa kita harus menjadi manusia, jadi saja malaikat yang dingin dan tidak berhati.
Akui saja manusia yang selalu saja membuat kesalahan itu jauh lebih menyenangkan, ya kan? Walaupun kita manusia diciptakan untuk setidaknya menjadi sempurna di mata sesama kita. Janganlah memasang standar kesempurnaan terlalu tinggi. Ingat, biar bagaimanapun kita masih manusia, jadi jangan terlalu berharap sesuatu yang bahkan kita tidak bisa meraihnya untuk ada dalam diri orang lain.
Lagipula jika tidak ada manusia yang membuat kesalahan, bagaimana kita bisa belajar? Kita tahu bahwa kita selalu bisa belajar dari kesalahan orang lain, laku bagaimana kita bisa belajar jika tidak seorang pun membuat kesalahan?
Menurutku tidak ada yang tidak berguna dari perbuatan manusia, walaupun dia membuat kesalahan sekalipun. Seperti yang kubilang tadi, kesalahan pun sangat berguna untuk pembelajaran orang lain. Lalu mengapa tidak jalani saja peran kita sebagai manusia yang baik, manusia yang membuat kesalahan dan mungkin harus menghadapi kegagalan yang pahit. Toh selain diberi kelebihan untuk memperbaiki kesalahan yang kita buat, meski memang lebih baik untuk tidak membuat kesalahan. Poin ini aku tunjukan bagi mereka yang telah membuat kesalahan, bukan mereka yang akan membuat kesalahan. Ketika kita baru akan membuat kesalahan, kita masih bisa menghindarinya kan? Jika kita sudah tahu kau kita membuat kesalahan dan tidak berusaha menghindarinya, itulah yang dinamakan dengan BODOH.
Ini adalah salah satu kisah pilu dari anak manusia yang melakukan kesalahan di dalam hidupnya, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua...
*****
Semua berawal saat aku mengontrak sebuah rumah, sebuah rumah di kawasan yang sungguh sangat tenang. Rumah itu terletak di kota kecil, kota yang tidak terlalu banyak dihuni orang. Aku sendiri sebenarnya tidak ingin menghuni kota itu, tapi pekerjaan mengharuskanku untuk tinggal di sana. Sebagai karyawan baru yang berhasil diterima dari sekian banyak pelamar muda yang mungkin lebih pintar dariku, aku tidak boleh membangkang. Aku harus mengikuti apa perintah atasanku, dan inilah perintahnya. Perusahaanku membuka sebuah cabang kecil di kota yang juga kecil ini, dan akulah yang bertanggung-jawab untuk itu. Sebagai ganti dari fakta bahwa aku harus terisolasi di sebuah kota kecil, perusahaan membayarku lebih. Itulah yang membuatku tergiur, karena dengan bayaran lebih itu aku bisa menabung untuk masa depanku sendiri.
Aku tiba di kota ini beberapa hari yang lalu, dan langsung menepati rumah kontrakan ini. Rumah ini cukup besar dengan gaya tradisional. Di belakang rumah menjulang hutan yang kukira cukup dalam dan lebat, hanya ada sebuah pagar bambu yang membatasi pekarangan belakang rumah ini dan hutan. Sebenarnya tidak terlalu buruk tinggal di sana, udaranya segar dan dingin, cukup membuaiku sebagai orang kota yang hidup di dalam hiruk-pikuk keramaian dan udara dari knalpot 'tong sampah' besar berjalan (aku tidak ingin menyebutnya bis atau angkutan umum, karena memang keadaannya seperti tong sampah bagiku), aku sangat suka udara di sini. Udara di sini membuat migrain kambuhan yang sudah menahun kuderita hilang begitu saja, sangat hebat. Dan satu lagi yang kusuka dari rumah dan kota ini, adalah hujannya. Aku sangat suka suasana hujan di sini, sangat sunyi dan magis. Setiap butiran air yang turun dari langit dan menyentuh dahan juga atap rumah, seperti membentuk sebuah simfoni indah. Jika sudah seperti itu, aku akan mengambil secangkir teh hangat dan duduk di beranda rumah itu.
Aku sangat menikmati rumah itu dan juga pekerjaanku.
Sayangnya setelah beberapa bulan tinggal di sana, aku mulai menemukan hal yang tidak menyenangkan di rumah itu. Entah mengapa setiap tengah malam aku selalu mendengar suara gaduh dari dalam rumah itu, seperti ada seseorang yang sedang bertengkar hebat. Suara gaduh itu sangat mengganggu tidurku, terutama saat aku harus bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya. Ketika titik emosiku sudah sampai di ambang batas, aku sering sekali keluar kamar untuk memergoki suara gaduh itu. Tapi ketika aku keluar, aku hanya menemukan keheningan, tidak ada siapa-siapa di sana. Aku memang bukan orang yang percaya takhayul atau hal-hal yang berhubungan dengan makhluk halus, jadi ketika menghadapi fenomena seperti ini aku tidak pernah merasa takut atau apa.
Tapi itu tidak bertahan lama, ketidakpercayaanku dengan fenomena makhluk halus itu terkoyak seketika...
*************
Saat itu tengah malam dan sedang turun hujan. Tidak ada sedikit pun rasa kantuk yang menggelayut dalam diriku saat itu, akhirnya aku hanya membuat secangkir teh hangat dan duduk di ruang tamu. Aku menikmati hujan malam itu, seperti biasa. Tatapanku lurus ke jendela yang langsung menghadap keluar. Aku hanya bisa melihat hingga beberapa meter ke depan, karena memang cahaya lampu berandaku tidak menjangkau terlalu jauh, hingga sisanya gelap gulita. Semakin lama aku semakin terbuai, hingga tidak terasa aku melihat sosok perempuan dengan pakaian tradisional yang biasa digunakan wanita di kota ini sehari-hari. Dia menatapku, tapi hanya kekosongan yang aku tangkap dari matanya. Wajahnya pucat dan terlihat sangat dingin, sepertinya wanita itu sedang pilu hatinya. Anehnya aku sama sekali tidak bisa bergerak, satu-satunya yang kurasakan hanya detak jantungku yang berdetak sangat kencang seperti sekumpulan drum band dan desir darahku yang mengalir deras di dalam tubuhku sendiri.