Dongeng Tengah Malam

Maghfira Izani
Chapter #16

Cerita kakakku, Salma.

Aku, ibu dan ayah hanya bisa diam. Kami bertiga hanya duduk berjongkok di atas tanah merah, sepatuku sampai kotor. Tadi pagi memang hujan, tapi untungnya hujan berhenti saat siang. Sepertinya alam dapat membaca kesedihan kami. Ya, kami memang sedang dalam rangkulan kesedihan. Pagi ini ibu bersikeras untuk datang, padahal awalnya ayah sempat menyuruh kami di rumah saja. Namun bagi ibu, rentang waktu dua minggu belumlah cukup untuk mengobati lukanya. Sebenarnya bukan hanya dia yang terluka, kami semua juga terluka. Hari ini tepat dua minggu yang lalu, kami menemukan Salma meninggal di kamarnya. Salma adalah kakak perempuanku, seorang wanita yang baik, bahkan sangat baik. Umur kami hanya beda tiga tahun saja. Belasan tahun yang lalu ibuku menamaiku Aida ketika aku lahir. Mereka sangat senang akan kehadiranku, begitu juga Salma. Akhirnya dia dapat seorang adik sekaligus teman baik, dan kami pun sangat akrab. Semenjak kecil dia memanggilku Ai, panggilan kesayangannya untukku. Ah, aku sangat merindukan kakak.

Mengapa dia harus pergi secepat itu, padahal umurnya masih muda? Sebenarnya hal yang membuatku sangat sakit lebih dari kepergiannya adalah kebodohanku sendiri, dan hingga saat ini aku masih mengutuk diriku sendiri. Andai saja aku bisa mengerti saat itu.

Semua ini dimulai saar umur Salma 15 tahun. Waktu itu kami sekeluarga sedang bertamasya ke luar kota. Ayah memang selalu menyempatkan waktu untuk mengajak anak-anaknya bepergian saat waktu liburan. Kami waktu itu memutuskan untuk menginap selama beberapa hari di sebuah vila yang dipinjamkan teman ayahku. Kami sangat senang waktu itu, terutama aku dan Salma.

"Pasti di sana asik sekali Ai, kakak gak sabar," ucapnya kepadaku saat kami sedang dalam perjalanan menuju vila itu, ia terlihat sangat senang. Senyum lebarnya selalu menghiasi wajahnya, sampai-sampai aku pun dapat merasakan aura kebahagiaannya menular padaku. Aku ikut senang sekali waktu itu, orangtua kami hanya bisa tersenyum melihat sikap kami. Hari itu keluargaku adalah keluarga yang paling bahagia karena masih bisa menikmati waktu berharga bersama. Aku masih menyimpan ingatan itu di otakku.

Beberapa jam perjalanan tidak terasa, karena aku dan Salma tidak berhenti bermain. Dia selalu menggodaku yang saat itu masih malu-malu, selalu ada saja ulahnya yang dapat memancing tawaku. Saat hari agak sore, kami sampai di vila itu. Hal pertama yang Salma sadari saat kami turun dari mobil adalah, langit sore di vila itu sangat indah. Cahaya oranye menyerebak dan mengalir di langit, seperti seseorang tengah mewarnainya dengan sebuah kuas yang besar, dan kami semua hanya bisa menyaksikan polesan kuas itu, polesan kuas sang pencipta yang sedang menegaskan karunia-Nya atas alam semesta ini. Salma memegang tanganku saat itu. Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum. Dia melirik nskal lalu membalas senyumku.

Hari-hari di vila kami habiskan dengan suka cita. Beberapa kali kami berkeliling ke perkebunan sekitar. Ayah mengajak kami singgah ke tempat-tempat wisata yang ada di sana, menghabiskan waktu seperti keluarga lain. Saat malam tiba, aku merasa sedikit ketakutan, karena memang vila ini terlihat sedikit menyeramkan. Saat itu hanya Salma yang dapat kuandalkan, dia selalu berusaha menghilangkan rasa takutku, dan berhasil.

"Gak ada apa-apa kok Ai, cuma perasaan kamu aja. Gak ada apa-apa di sini, Ai tidur aja, kakak jagain di sini." Dia tersenyum dan menyeka keringatku. Rasa takutku lama kelamaan hilang, dan aku pun dapat tertidur nyenyak. Salma memang pelindungku, aku menyadari itu. Aku sangat bersyukur karena memiliki kakak seperti dia.

Namun hal itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari kemudian sesuatu terjadi pada Salma. Malam itu seperti biasa dia menemaniku tidur, dan masih terjaga malam itu. Dia memang akan tidur saat melihatku sudah tidur nyenyak, dan malam itu aku tertidur dengan nyenyak.

Vila itu memang indah, tapi tidak seindah apa yang kami kira saat malam. Vila itu sangat menyeramkan kala malam, udaranya yang dingin membuat siapapun tidak ingin meninggalkan kamar. Vila itu juga dikelilingi hutan, dan yang terdekat adalah hutan bambu. Ya, bambu. Deretan pohon bambu tinggi memagari vila di bagian samping dan belakang. Saat tengah malam dan angin berhembus kencang, daun dari ratusan pohon bambu itu menari bersamaan dan menghasilkan suara desiran yang mengerikan, seperti bisikan tak bertuan yang mengalir di udara. Beberapa kali suara langkah kaki di atas daun kering pun terdengar dari kejauhan, entah siapa yang berjalan-jalan di hutan saat tengah malam buta seperti itu. Aku sering mendengar suara orang mengerang kencang saat tengah malam, suara yang berasal dari kamar mandi yang berada di belakang vila. Suara erangan yang menyedihkan, erangan yang berat dan serak, seakan meminta tolong pada siapapun yang mendengarnya. Saat mendengar itu jantungku berdetak kencang sekali, tubuhku juga gemetaran. Saat itulah Salma akan datang dan menenangkanku, dan aku sedikit terbantu olehnya.

Tapi malam itu kenyataan berkata lain. Setelah aku tertidur, aku mendengar suara langkah kaki di kamarku. Suara langkah kaki itu terdengar sangat dekat, dan diakhiri dengan suara gaduh yang amat keras. Setelah itu suara kaki dan gaduh itu hilang, namun berganti dengan suara teriakan Salma. Dia berteriak keras sekali, membuatku terbangun. Saat aku bangun, aku melihat Salma sudah tergeletak di lantai, tidak sadarkan diri. Beberapa detik kemudian orang tuaku masuk ke dalam kamar, mereka kaget melihat Salma sudah pingsan di lantai kamar. Ayahku langsung menggendongnya dan membawanya keluar kamar. Aku yang masih kaget langsung bangkit dari tempat tidur, mengikuti ayahku ke luar kamar.

"Ada apa Aida? Mengapa kakakmu pingsan?" Tanya ibu seraya menggandeng tanganku.

"Aku tidak tahu Bu, tadi aku sedang tidur. Tiba-tiba kakak berteriak keras sekali, saat aku bangun dia sudah pingsan." Jawabku.

Bicaraku masih terbata-bata saat itu, aku masih dalam keadaan terkejut. Jantungku berdegup kencang dan membuat napasku tersengal-sengal, hingga nada bicaraku berantakan. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Salma, aku sama sekali tidak tahu. Saat itu juga ayahku membawa Salma ke kamarnya, membaringkan tubuh Salma di atas tempat tidur. Wajah Salma terlihat pucat, dan di lehernya ada luka lebam. Luka itu mengelilingi lehernya, seperti ada sesuatu yang mencekik lehernya. Suhu tubuh Salma juga sangat tinggi. Ayah sangar khawatir dengan keadaan Salma, dan karena letak vila itu jauh dari pusat kota, akhirnya ayah memutuskan untuk membawa Salma pulang. Itu tandanya malam ini juga kami harus angkat kaki dari vila itu. Ibuku segera membereskan barang-barang kamu dan memasukkannya ke dalam mobil. Ketika itu ayahku menggendong Salma masuk ke dalam mobil dan mendudukkan Salma di kursi penumpang.

Saat seluruh barang sudah masuk ke dalam mobil, kami pun pergi meninggalkan vila itu. Aku duduk tepat di sisi Salma, yang masih tidak sadarkan diri. Aku mengernyit ngeri melihat luka lebam di leher Salma, dan ketika kuperhatikan, luka lebam itu membentuk sebuah jari. Jari siapakah yang cukup besar untuk dapat mengelilingi leher Salma? Itu pertanyaan yang terlintas di kepalaku saat itu. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Salma malam itu. Rasa takut, sedih, dan terkejut larut jadi satu.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku pun memegang tangan Salma. Ternyata tangannya panas, Salma demam tinggi. Aku berbisik di telinganya.

"Kakak kenapa? Aku takut kak, kakak sadar dong."

Ketika aku selesai membisikkan kalimat itu, Salma merespon. Dia menggerakkan jari dan kepalanya, aku gembira. Dia sudah dapat merespon, tapi tentu keadaannya belum seratus persen baik. Ketika sampai, ayahku tidak langsung pulang ke rumah, dia berbelok arah ke rumah sakit. Salma langsung masuk UGD, dan dokter yang menerimanya mengatakan Salma harus segera mendapatkan perawatan intensif untuk menurunkan demamnya. Aku hanya bisa memperhatikan petugas medis menolong Salma, mereka sibuk memasang infus ke tangan Salma saat yang lain memeriksa tekanan darahnya.

Aku tidak berguna. Dia selalu ada saat aku sedang mengalami kesulitan, tapi kini dia dalam kesulitan, aku hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa. Malam itu Salma langsung di rawat di rumah sakit. Ibu membawaku pulang sedangkan ayah menunggu Salma di rumah sakit.

*********

Keesokan paginya aku dan ibuku kembali ke rumah sakit, kami berpapasan dengan ayah di depan pintu kamar tempat Salma dirawat. Ayah mengatakan bahwa demam Salma sudah turun, dan dia sudah sadar. Mendengar hal itu aku sangat senang, aku sudah tidak sabar untuk bertemu kakakku lagi. Aku ingin mendengar gurauan-gurauan lucunya, dan aku ingin melihat senyumannya lagi. Pagi itu kami melakukan pertukaran. Ayah pulang, sedangkan aku dan ibu menunggu di rumah sakit.

Kami pun segera masuk ke dalam kamar Salma. Senyuman lebar mengembang di wajahku, tapi ketika aku masuk, aku menemukan Salma sedang diam saja dan memandangi jendela kamarnya. Dia bahkan tidak merespon kedatangan kami, wajahnya masih pucat. Luka lebamnya juga masih terlihat jelas.

"Gimana sayang? Udah enakan badannya?" Tanya ibuku kepada Salma.

Tapi dia tidak menjawab, hanya memandang ibuku dengan pandangan kosong. Pelan-pelan Salma menganggukan kepalanya, ibuku tidak menghiraukan perubahan itu. Ibu mendekati Salma dan memeluknya. Aku mendekatinya dengan perasaan takut, aku takut dia sudah tidak mengenaliku lagi seperti aku tidak mengenalinya. Tapi ketika aku mendekatinya, dia memandangku dalam dan sedikit tersenyum. Aku senang sekali, kakakku masih mengenaliku. Aku duduk di sisinya dan memegang tangannya.

"Kakak baik-baik saja kan?" Tanyaku polos. Dia menatapku, dan setetes air mata jatuh dari kelopak matanya.

"Kakak baik-baik saja," jawabnya. Ternyata dia masih kakakku, hanya saja sangat berbeda.

Beberapa hari kemudian Salma di pulangkan oleh dokter. Dia mengatakan bahwa Salma sudah cukup sehat dan tidak lagi perlu dirawat di rumah sakit. Kami sekeluarga sangat bahagia, dan beramai-ramai menjemputnya di rumah sakit. Bahkan beberapa kerabat kami juga ikut mendampingi, tapi semua itu tidak membuat keadaan bertambah baik. Salma berubah seratus delapan puluh derajat, dia tidak seceria dulu. Dia lebih banyak menghabiskan waktu menyendiri di kamarnya, hanya sesekali menatapku dan sedikit tersenyum. Tapi kemudian dia kembali muram, seperti ada kabut di depan bola matanya yang membuat segala sesuatunya jadi gelap. Semenjak itu juga Salma tidak masuk sekolah, jarang sekali mau keluar kamarnya.

Lihat selengkapnya