Bab 1 : Seraphina yang Terluka
Di London, Inggris
Sorotan lampu panggung menyorot tubuh anggun Seraphina. Rambut hitam bergelombangnya melambai lembut setiap kali ia bergerak. Suara merdunya mengalir memenuhi aula konser, membawa para penonton dalam perjalanan emosi yang dalam. Lagu yang ia nyanyikan, ‘𝘌𝘵𝘩𝘦𝘳𝘦𝘢𝘭 𝘚𝘵𝘳𝘪𝘯𝘨𝘴', dipenuhi rasa hari dan cinta, hingga membuat beberapa orang terisak. Dalam sekejap, ia membuat semua orang lupa akan dunia luar, tenggelam dalam pesona suaranya.
Ketika nyanyian terakhirnya berakhir, ruangan dipenuhi tepuk tangan meriah. Seraphina membungkuk anggun dan tersenyum tipis. Namun, di balik senyum itu, jantungnya berdebar keras. Selalu ada ketakutan tersembunyi setiap kali ia tampil—bukan pada penonton, tetapi pada seseorang yang kini menunggunya di balik panggung.
Saat ia berjalan ke belakang panggung, wajah ayahnya, Marcus, sudah menanti. Sorot matanya tajam, penuh dengan kritik yang tidak pernah hilang. Wajahnya tak menunjukkan kebanggaan sedikit pun atas penampilan putrinya. Sebaliknya, rahangnya mengeras, dan tangan kanannya mengepal di samping tubuh.
“Kamu pikir suara itu bisa menutupi dosa-dosamu, Seraphina?” suaranya datar, tetapi menusuk seperti bilah pisau.
Seraphina berhenti di tempat, tubuhnua kaku. “Papa ....” Ia mencoba memulai, tetapi suara itu terputus begitu saja.
Marcus mendekat dengan langkah berat. “Kamu berdiri di atas panggung itu, memamerkan dirimu seperti ibumu dulu. Seolah-olah dunia memujamu. Tapi kamu lupa, Seraphina, suara itu adalah pengingat kejahatan terbesar dalam hidupku.”
“Ke ... kejahatan apa?” Seraphina berusaha menahan gemetar di suaranya.
“Kematian ibumu,” jawab Marcus dingin. “Dia meninggal karena kamu, Seraphina. Kamu telah mengambil segalanya dariku sejak kamu lahir.”
Perkataan itu membuat dada Seraphina sesak. Sejak kecil, ia telah mendengar kalimat yang sama berulang kali. Namun, tak pernah sekalipun luka itu memudar. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk membalas.
“Ibu meninggal karena komplikasi medis, bukan karena aku ....” Seraphina mencoba bertahan dengan logika, tetapi suara Marcus memotongnya.
“Jangan berani-berani membela dirimu!” Dia menunjuk ke arah Seraphina dengan telunjuknya. “Ibu tirimu benar. Kamu adalah kutukan. Bahkan sampai sekarang, kamu tak bisa membawa keberuntungan bagi keluarga ini.”