Door's Mystery

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #3

Menemukan Lorong

Di kamar remang-remang diterangi lampu kecil di sudut meja, Seraphina terduduk di lantai, membiarkan tubuhnya terkulai lemas. Tangisnya pecah, teredam oleh bantal yang ia dekap erat. Hatinya sesak, seolah dunia terus menerus menghantamnya tanpa ampun. Tamparan ayahnya saja masih terasa panas di pipi, seperti bekas luka yang tak kasat mata, tetapi menorehkan rasa sakit jauh di dalam dada belum lagi dengan John yang meninggalkannya begitu saja. 

“Kenapa aku harus dilahirkan?” gumamnya, hampir seperti bisikan, sambil menatap bayangan yang buram di cermin. Matanya memerah, rambut hitam yang berantakan, dan air mata juga masih terus mengalir menambah kerentanannya malam itu. Namun, di balik keputusannya, ada rasa penasaran yang perlahan muncul—sebuah dorongan untuk melarikan diri dari segala tekanan. Pandangan dia tertuju pada koridor panjang yang dapat ia lihat melalui celah pintu kamar yang sedikit terbuka. 

Hatinya ingin agar ia tetap di kamar, tetapi kakinya bergerak dengan sendiri. Setiap lanhakah di lantai kayu itu terasa seperti perjalanan menuju sesuatu yang tidak pasti. Saat ia melangkah ke koridor tua rumah itu, ingatannya berkelana pada ibunya. Rumah besar ini adalah satu-satunya peninggalan mendiang ibu Seraphina, tetapi kini terasa asing—seperti sang ibu membawa pergi kehangatan yang pernah ada. 

Di ujung koridor, ia berhenti di depan dinding batu yang tak seberapa mencolok. Tangannya, hampir tanpa sadar, menyentuh permukaan dingin. Dinding ini tampak biasa saja, tetapi jari-jarinya merasakan sesuatu yang aneh—sebuah celah kecil yang hampir tidak terlihat. Ada rasa penasaran yang meluap di dalam dirinya, seperti bisikan lembut yang mendorongnya untuk terus menekan celah itu. 

“Kamu tidak seharusnya di sini,” bisikan kecil dari hatinya muncul, mengingatkan pada larangan ayahnya yang tidak pernah dijelaskan. Namun, Seraphina menepisnya. Dia butuh jawaban. Dia butuh sesuatu yang lebih dari sekadar tangis tanpa arti. 

Ketika dia mendorong celah itu, terdengar suara klik pelan. Dinding itu pun bergerak, bergeser sedikit demi sedikit, mengungkapkan pintu kayu tua yang tersembunyi di baliknya. Seraphina menahan napas, memandangi ukiran-ukiran di permukaan pintu ini—pola bunga dan lingkaran yang tampak berusia ratusan tahun, dengan cahaya samar biru yang memancar dari sela-selanya. 

“Ini ... apa?” tanya dia pada diri sendiri, suaranya nyaris tenggelam dalam ketakjuban. Ada sesuatu yang aneh, tetapi juga memenangkan dari pintu ini, seolah-olah dia dipanggil untuk masuk. Seraphina menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat. Meski takut, tangannya perlahan menyentuh gagang pintu yang dingin. Ketika dia memutarnya, pintu ini terbuka dengan suara berderit pelan. 

Lorong panjang di balik pintu ini gelap dan penuh misteri. Udara di sana terasa dingin dan lembap, seperti baru saja diguyur hujan. Dinding-dindingnya dipenuhi ukiran yang lebih rumit daripada pintu—simbol-simbol kuni yang terasa akrab meski dia tidak pernah melihatnya sebelum itu. Beberapa simbol menyerupai bintang, lingkaran sihir, dan sebuah lambang bunga yang terlihat di buku harian ibunya. 

Lampu kecil yang ia bawa dari kamarnya menyinari jalan di depannya, tetapi kegelapan di sekitarnya terasa berat, hampir seperti bernapas. Di tengah lorong, langkahnya terhenti. Matanya terpaku pada sebuah pola yang terukir lebih dalam dari yang lainnya, menyerupai mahkota dikelilingi oleh api. 

Dia mendengar sesuatu—sebuah bisikan, atau mungkin hanya bayangannya sendiri. “Seraphina ... kau akhirnya datang.”

Seraphina memutar kepala ke segala arah, tetapi lorong itu kosong. Ia menggenggam erat lampu kecil di tangannya, berusaha mengusir rasa takut yang perlahan mencengkeramnya. 

Lihat selengkapnya