Bab 4 : Penasaran
Langit malam mencengkeram rumah tua itu dalam keheningan yang nyaris menelan seluruh keberanian Seraphina. Hanya suara hujan yang mengetuk jendela dan desir angin yang menyusup di celah dinding yang menemani langkah ragu-ragunya. Dia berdiri di depan pintu kayu yang selama ini menjadi larangan tak tertulis di keluarganya.
Surat dari ibunya masih tergenggam erat di tangannya. Kata-kata di dalam surat itu terus terngiang di kepala.
โ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ต๐ถ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ช๐ฏ๐ต๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข.โ
Seraphina menelan ludah, jemarinya sedikit gemetar saat hendak menyentuh gagang pintu. Dia tidak tahu apakah yang dia rasakan lebih condong ke rasa takut atau penasaran yang meluap-luap. Mungkin keduanya.
โIni bodoh,โ gumamnya, suara sendiri terdengar kecil di ruangan yang sunyi. โTapi aku harus tahu.โ
Dia menarik napas dalam-dalam dan mencoba mengusir ketegangan yang meratapi punggungnya. Bayangan ibunya muncul dalam ingatan, tersenyum lembut seperti dulu. Dia ingin percaya bahwa ibunya tidak akan menyesatkannya. Akan tetapi, bagaimana jika di balik pintu ini ada sesuatu yang lebih buruk dari semua yang pernah ia bayangkan?
Dia merapatkan syalnya, seolah bisa melindunginya dari hawa dingin yang terasa semakin menusuk. Setengah berharap ayahnya atau seseorang akan menghentikannya, tapi rumah itu tetap diam, seperti mendukung keputusan yang akan diambilnya.
Tangannya meraih gagang pintu, tapi ia tidak segera membukanya. Alih-alih, ia menempelkan telinga ke kayu tua itu. Tidak ada suara apa pun dari dalam, tetapi ada sensasi aneh yang menggelitik perutnya. Seolah di balik pintu ada sesuatuโatau seseorangโyang menunggu.
โJangan bodoh, Seraphina,โ bisiknya pada diri sendiri, tapi tidak bergerak juga.
Dia memejamkan mata sejenak, membayangkan kemungkinan yang bisa terjadi. Apa yang sebenarnya ibunya sembunyikan? Mengapa hanya dia yang harus menemukannya? Mengapa ayahnya begitu keras melarangnya mendekati pintu ini?
Lalu, seperti ada yang menariknya dari dalam, tangannya bergerak sendiri, memutar gagang pintu perlahan. Bunyi klik kecil terdengar, membuat jantungnya melompat. Pintu itu tidak terkunci.
Detik itu juga, udara di sekelilingnya terasa berubah. Hawa dingin yang tadi menggigit kini terasa lebih pekat, lebih berat. Seperti udara yang berasal dari tempat lain, tempat yang bukan bagian dari rumah ini.
Dia menarik napas tajam. Ketakutan kembali mencengkeram, tapi rasa penasaran menyalakan keberanian di dalam dirinya.
โJika aku tidak melangkah sekarang, aku tidak akan pernah tahu kebenarannya.โ
Dengan detak jantung yang nyaris menyesakkan dada, Seraphina mendorong pintu itu terbukaโdan yang dia lihat di baliknya bukanlah lorong biasa.
Bukan gelap.
Bukan cahaya.