Door's Mystery

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #6

Perintah Dingin

Bab 6 : Perintah Dingin

Istana Valoria berdiri megah di bawah langit senja, dengan dinding marmer putih yang memantulkan cahaya matahari yang mulai redup. Seraphina berjalan di lorong-lorong panjang, mengikuti seorang pelayanan yang membawanya menuju aula utama. Matanya terus bergerak, mencoba memahami tempat yang kini menjadi bagian dari hidupnya—dunia yang terasa asing tapi menawan sekaligus menakutkan.

Setiap langkah terasa seperti gema di dalam dirinya, seolah istana ini menyimpan ribuan rahasia yang menunggu waktu untuk terungkap. Namun, sebelum pikirannya bisa mencerna semuanya, pintu kayu besar di depannya terbuka, memperlihatkan sosok Pangeran Adrian yang berdiri di tengah ruangan.

Adrian tidak duduk di singgasana seperti yang Seraphina bayangkan, melainkan berdiri di dekat jendela besar dengan pemandangan taman kerajaan. Sorot matanya dingin, nyaris tanpa emosi, seperti topeng yang sempurna untuk menyembunyikan isi hatinya. Ketika pandangan mereka bertemu, udara di antara mereka terasa berat.

“Seraphina,” ucap Adrian, suaranya rendah tapi cukup tegas untuk memenuhi seluruh ruangan. “Mulai hari ini, kau akan bertanggung jawab langsung atas kebutuhanku di istana ini, kau paham?”

Seraphina mengerutkan kening. “Kebutuhan Anda, Yang Mulia? Saya tidak mengerti.”

Adrian mengangkat dagunya sedikit, menatap dengan tatapan menilai. “Kau akan memastikan kamarku selalu dalam kondisi yang layak, menyiapkan dokumen-dokumen yang kubutuhkan, dan tidak pernah—“ suaranya menekankan kata terakhir itu, “—berani melawan perintahku.”

Seraphina mencoba membaca ekspresi Adrian, mencari celah kecil yang mungkin menunjukkan niat baik di balik kata-katanya. Namun yang ia temukan hanya tembok es yang tidak tertembus. “Baik, Yang Mulia,” jawabnya pelan, menundukkan kepala.

Adrian berbalik, melangkah perlahan mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah. “Dan satu hal lagi,” katanya, suara lebih rendah, hampir berbisik, “aku tidak suka alasan. Jika kau gagal, aku tidak akan mentolerirnya.”

Seraphina menahan napas, merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti ruangan. “Saya mengerti, Yang Mulia. Akan saya terus ingat nanti.”

“Yang terbaik mungkin tidak cukup,” jawab Adrian cepat, dengan senyum tipis yang hampir menyerupai ejekan. Ia menoleh ke arah pelayan yang berdiri di dekat pintu. “Pastikan dia tahu aturan di sini. Tidak ada tempat bagi mereka yang gagal.”

Pelayan itu menundukkan kepala dalam-dalam. “Ya, Yang Mulia.”

Ketika Adrian berbalik, Seraphina ingin mengatakan sesuatu, ingin membela diri atau sekadar memastikan kalau dia bukan musuh di tempat ini. Namun kata-mata itu tersangkut di tenggorokannya. Ia tahu, belum saatnya untuk berbicara lebih jauh.

Sebelum meninggalkan ruangan, Adrian berhenti sejenak di ambang pintu. “Satu hal lagi, Seraphina,” katanya tanpa menoleh. “Jangan pernah memasuki perpustakaan barat. Itu bukan tempat yang pantas untukmu.”

Seraphina dibuat bingung. Perpustakaan barat? Mengapa tempat itu terdengar seperti rahasia yang harus dijaga? Namun ia hanya menjawab singkat, “Baik, Yang Mulia.”

Lihat selengkapnya