Bab 8 : Ujian Awal Seraphina
Seraphina berdiri di tengah aula besar yang dingin. Mata-mata tajam para pelayan senior menyorot padanya, menilai setiap gerak-geriknya dengan cermat. Aroma lilin yang membakar dan lantai marmer yang dingin semakin memperkuat rasa asing yang menyelimuti dirinya.
“Seraphina,” suara tajam Evelyn memecah keheningan, “kamu akan membersihkan aula perjamuan ini sendiri sebelum matahari terbenam. Jangan sampai ada setitik debu pun atau ... aku akan memastikan kau menyesali keberadaanmu di sini.”
Seraphina menahan rasa marah yang muncul di dadanya. Ia sudah tahu ini adalah upaya Evelyn untuk mempermalukannya di depan semua orang. Ia menundukkan kepala, memilih untuk tidak membalas.
“Baik, Nona Evelyn,” katanya dengan suara yang berusaha tetap tenang.
Begitu Evelyn berlalu dengan senyuman puas, Seraphina menarik napas panjang. Aula perjamuan itu sangat luas, dengan langit-langit yang menjulang tinggi dan jendela besar yang membiarkan sinar matahari sore menyelinap masuk. Membersihkannya seorang diri terasa seperti tugas mustahil, tapi ia menolak untuk menyerah.
**
Beberapa jam berlalu. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mulai gemetar karena lelah. Ia menoleh ke arah jendela; matahari hampir tenggelam, mewarnai langit dengan semburat oranye. Seraphina menyeka peluh di dahinya, menatap hasil kerjanya dengan bangga meski tubuhnya hampir roboh.
Namun, langkah kaki terdengar dari pintu aula. Evelyn muncul kembali, ditemani Ratu Helena yang memandangnya dengan tatapan penuh penghinaan.
“Cukup menyedihkan,” kata Ratu Helena sambil melipat tangannya di dada. “Aku tidak mengerti mengapa Pangeran Adrian membawa orang sepertimu ke sini. Kau bahkan tidak pantas menjadi pelayan istana.”
Evelyn tersenyum dingin. “Oh, saya setuju, Yang Mulia. Tapi mungkin kita bisa memberinya kesempatan untuk membuktikan dirinya dengan tugas yang lebih berat.”
“Pastikan dia tahu tempatnya,” tambah Ratu Helena sebelum berbalik dan pergi.
Seraphina merasakan dadanya sesak, tapi ia tetap berdiri tegak. Ia tidak akan membiarkan mereka melihatnya hancur.
“Apa lagi yang harus saya lakukan, Nona Evelyn?” tanyanya dengan nada datar, mencoba menyembunyikan rasa lelahnya.
Evelyn melangkah mendekat, wajahnya sangat dekat hingga Seraphina bisa mencium aroma parfum mawar yang menusuk.
“Kau akan melayani perjamuan malam ini,” katanya pelan, tapi penuh ancaman. “Dan pastikan kau tidak membuat kesalahan, atau aku akan membuatmu menyesal pernah menginjakkan kaki di sini.”
**
Saat malam tiba, aula yang tadinya kosong kini penuh dengan para bangsawan. Seraphina berdiri di sudut ruangan, menggenggam nampan perak dengan tangan gemetar. Evelyn sedang mengawasinya dari kejauhan, menunggu momen untuk menjatuhkannya.