Door's Mystery

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #20

Makhluk Bayangan

Bab 20 : Makhluk Bayangan


Makhluk itu bergerak dengan kecepatan luar biasa, tetapi Adrian tak kalah gesit. Ia berputar, menghindari serangan demi serangan, pedangnya membelah udara dengan presisi sempurna. Namun, seberapa pun kuatnya Adrian, makhluk itu terlalu besar dan terlalu kuat. 


Kekhawatiran itupun terbukti. Dalam satu ayunan besar, makhluk itu berhasil menghantam Adrian hingga terpental menabrak pohon. Pedangnya terlempar, cahaya dari bilahnya padam seketika. 


“Yang Mulia!” Seraphina berlari ke arahnya, lututnya hampir lemas saat melihat darah mengalir dari pelipisnya. “Bangun! Kumohon.”


Adrian membuka matanya perlahan, suaranya serak. “Kau harus pergi, Seraphina. Jangan biarkan mereka menangkapmu.”


“Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Air mata menggenang di matanya. 


Makhluk itu melangkah mendekat, mengangkat cakarnya tinggi-tinggi, siap mengakhiri segalanya. 


“Maafkan aku.” Bisik Seraphina, tangannya meraih pedang Adrian yang terletak di dekatnya. Cahaya dari pedang itu menyala kembali, lebih terang dari sebelumnya. 


Untuk pertama kalinya, Seraphina merasakan sesuatu yang aneh—sebuah kekuatan yang mengalir dari pedang itu, masuk ke tubuhnya. 


Makhluk itu berhenti, katanya menyipit seakan mengenali sesuatu yang tak diharapkannya. 


“Apa ini?” bisik Seraphina, matanya menatap kilauan pedang yang kini menyatu dengan kekuatannya sendiri. 


**


Langkah-langkah berat mendekat, menggetarkan tanah seperti dentuman genderang perang. Seraphina berdiri mematung, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar di hadapan makhluk raksasa bayangan yang mendominasi kegelapan di sekelilingnya. 


Makhluk itu melangkah perlahan, taringnya yang tajam berkilauan dalam remang cahaya bulan yang berhasil menembus croah dedaunan. Matanya, merah menyala, menatap Seraphina seperti pemangsa yang bersiap melahap mangsanya. 


Seraphina mencoba mundur, tetapi kakinya tersandung akar pohon yang mencuat dari tanah. Ia jatuh, tangannya berusaha mencari pegangan, tapi yang ia rasakan hanyalah tanah lembap dan dingin. 


Makhluk itu mendekat, suara erangan rendah keluar dari tenggorokannya, seperti menikmati ketakutan yang memenuhi udara. Cakarnya yang besar terangkat tinggi, siap mengakhiri segalanya. 


Seraphina menutup mata, tubuhnya menegang. Dalam benaknya, ia sempat mengingat wajah ibunya, suara lembutnya yang tak pernah ia dengar sebelum itu. 


“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩, 𝘈𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶. 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘨𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘱𝘶𝘯, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢.”

Lihat selengkapnya