Dormitory Tales : A Love Story

Nisa
Chapter #15

BAB 15


Mereka berhenti sejenak, menyadari bahwa sudah hampir waktunya untuk beribadah, dan perjalanan ke TP yang semula direncanakan harus ditunda. Kamila terlihat sedikit kecewa, ekspresinya agak lesu. "Aduh, padahal aku udah pengen banget ke TP, kayaknya seru banget ngeliat mesin-mesin di sana," katanya dengan nada sedikit kecewa, sambil menatap ke arah jalan yang mengarah ke bengkel permesinan.

Ruby yang berjalan di sebelah Kamila, menepuk bahunya dengan semangat. "Gak apa-apa Kam, masih banyak waktu kok buat ngelilingin sekolah. Kita kan bisa datang lagi nanti, beneran deh, gak bakal ketinggalan!" Ruby mencoba menghibur Kamila meski dirinya juga merasa sedikit kecewa karena tidak bisa mengeksplor lebih jauh.

Olivia yang mendengar percakapan mereka, ikut menimpali dengan tersenyum. "Iya Kamila, kita kan gak kemana-mana. Kapan-kapan kita buat rencana lagi, dan mungkin bisa lebih seru, siapa tahu kita bisa bawa temen-temen juga!"

Shafa yang sudah lebih dulu siap dengan peralatan ibadahnya, ikut mendekat dan memberikan pandangan bijak. "Mending kita fokus dulu ibadah, biar nanti bisa lebih tenang. Tapi nanti setelah itu, kalau masih ada waktu, kita pasti bisa keliling sekolah!"

Farah yang berada di belakang, ikut mengiyakan, "Bener tuh! Nanti kalau sudah selesai ibadah, kita lanjut jalan-jalan lagi, kan gak bakal rugi!"

Kamila akhirnya sedikit tersenyum mendengar kata-kata mereka, meski masih ada rasa kecewa, dia mulai merasa lebih baik. "Oke deh, ayo kita siap-siap dulu. Nanti setelah ibadah, kita lanjut, janji ya!"

Geng Sunny pun melangkah dengan semangat meskipun sedikit kecewa, dan bergegas menuju ruang ibadah, mempersiapkan diri untuk kegiatan yang sudah ditunggu-tunggu selanjutnya.

Di kamar 207, suasana agak sibuk dengan keempat gadis itu saling bergantian mandi dan berusaha mempersiapkan diri untuk makan malam yang akan segera dimulai. Masing-masing dari mereka sedikit bingung memilih baju yang tepat.

"Gimana nih, guys? Kita makan malam nanti pakai baju yang mana?" tanya Shafa sambil membuka lemari dan menatap koleksi bajunya yang tampak seperti pilihan yang terlalu banyak.

"Aduh, bingung deh," kata Olivia sambil menatap pakaian yang sudah dikeluarkannya. "Terlalu banyak pilihan, tapi kan kita mau makan bareng, jangan sampai ada yang kelebihan banget dong."

Farah yang sudah selesai mandi, mengeringkan rambutnya sambil ikut-ikutan bingung. "Aku sih bingung, mau pakai baju yang casual tapi tetap nyaman, gak usah terlalu formal juga. Jangan sampai nanti malah kelihatan terlalu dipaksakan."

Ruby yang sedang mencoba beberapa baju di depan cermin ikut menimpali, "Iya bener, aku juga gak mau kelihatan terlalu santai, tapi kayaknya kalau pakai ini sih pas. Gimana kalau kita semua pakai warna yang sama aja? Supaya seru!"

Shafa tertawa sambil menatap teman-temannya, "Bener juga ya, kalau kita seragam gitu, bisa kelihatan kayak geng yang solid."

Olivia mengangguk, "Tapi jangan yang sama banget dong, beda-beda tapi matching aja. Kayak, misalnya aku pakai yang biru, Ruby pakai yang hijau, Shafa pakai yang merah, Farah yang putih, biar gak kelihatan terlalu monoton."

Farah yang akhirnya memutuskan mengenakan pakaian dengan warna netral, ikut berpendapat, "Iya, supaya nanti gak kelihatan seperti seragam yang dipaksakan. Kita harus tetep nyaman, tapi tetap kelihatan stylish."

Setelah beberapa menit berdiskusi, mereka akhirnya sepakat dengan pakaian yang lebih santai namun tetap terlihat rapi dan matching. Mereka pun segera selesai berbenah diri dan bersiap untuk makan malam, meski sedikit bingung, namun mereka tetap bahagia bisa makan bersama-sama di malam pertama mereka di asrama.

Beberapa saat setelah bel berbunyi, menandakan waktu makan malam telah dimulai, para siswa kelas 10 bergegas turun ke ruang makan dengan riuh. Mereka masuk ke ruang makan masing-masing sesuai dengan pembagian yang telah ditentukan, dan suasana semakin hidup dengan gelak tawa serta obrolan ringan.

Safa dan Farah langsung menuju ruang makan B, sementara Olivia dan Ruby memilih untuk duduk di ruang makan A, tempat mereka biasa duduk. Meja 12 yang familiar kembali menyambut mereka, tetapi kali ini suasana terasa sedikit berbeda. Hanya ada kak Aisyah, kak Faizal, dan kak Rozi yang duduk di meja mereka. Kak Bima, yang biasanya ada di sana, tampak tidak ikut makan malam.

"Kak Bima nggak makan malam?" tanya Ruby sambil melihat sekeliling, heran.

"Dia memang jarang makan malam," jawab kak Faizal sambil tersenyum. "Pasti sibuk dengan kegiatan lain atau lagi di luar."

Ruby mengangguk, sementara Olivia hanya tersenyum, mendengarkan obrolan ringan itu. Suasana ruang makan A kembali dipenuhi oleh suara-suara siswa yang berbicara sambil menunggu upacara makan dimulai.

Tak lama, Kak Aisyah yang terlihat sangat santai mulai memberi tanda agar semua siswa berhenti berbicara, menandakan upacara makan akan segera dimulai. Kak Raihan yang berdiri di depan ruang makan memberi aba-aba dengan tegas.

"Lapor!" seru Kak Raihan, suaranya menggema di seluruh ruang makan. Semua mata tertuju pada dirinya. "Kami siap melaksanakan makan malam. Terima kasih atas makanan yang disediakan!"

Suasana menjadi khidmat sejenak, diikuti dengan tepuk tangan pelan dari semua yang hadir. Setelah upacara selesai, semua kembali tenang, dan para siswa diperbolehkan untuk menikmati makan malam mereka.

Makanan yang disajikan kali ini tampak lezat, dengan nasi, lauk-pauk yang beragam, dan berbagai pilihan sayur. Meja 12 yang sebelumnya cukup ramai kini menjadi tempat yang nyaman bagi Olivia dan Ruby untuk berbincang santai sembari menikmati hidangan mereka.

Ruby menatap Kak Raihan yang kini duduk dengan tenang di meja lain, matanya yang tajam dan tegas memberi kesan keteguhan. Suasana di ruang makan terasa lebih serius setelah upacara selesai, dan Ruby, dengan senyum nakalnya, berbisik kepada Olivia.

Lihat selengkapnya