Olivia tidak tahan lagi menahan rasa penasaran. Dia segera menghampiri Kak Raihan yang baru saja selesai berbicara dengan Ibu Asrama. Shafa dan Farah mengikutinya dari belakang, menatap Olivia dengan harapan besar agar pertanyaannya terjawab.
"Kak Raihan, Ruby mana? Kenapa dia tiba-tiba nggak ada di ruang makan? Ada apa sebenarnya?" Olivia bertanya dengan nada khawatir, hampir tidak memberinya ruang untuk mengelak.
Kak Raihan menghela napas dalam, raut wajahnya serius namun lembut. Dia menatap Olivia sejenak, lalu melihat Shafa dan Farah yang berdiri tidak jauh di belakang. "Ruby baru saja pergi dengan Malik. Mereka pulang kampung malam ini," jawabnya dengan tenang, meskipun jelas terlihat ada beban di balik suaranya.
Shafa langsung bereaksi, "Pulang kampung? Kok tiba-tiba banget, Kak? Ada apa sih?"
Kak Raihan terlihat ragu untuk menjawab, namun setelah sesaat, dia akhirnya menjelaskan, "Bunda mereka... baru saja meninggal dunia sore tadi. Malik datang untuk menjemput Ruby."
Mendengar itu, ketiganya langsung membeku di tempat. Olivia menutup mulutnya dengan tangan, matanya melebar tak percaya. Farah dan Shafa saling bertukar pandang dengan ekspresi sedih dan kaget.
"Apa...?" suara Olivia nyaris berbisik. "Tadi pagi Ruby masih cerita kalau dia teleponan sama bundanya. Kok bisa...?"
Kak Raihan mengangguk pelan, memahami kebingungan mereka. "Aku nggak tahu detailnya, tapi Malik bilang itu mendadak. Dia langsung izin ke Ibu Asrama dan membawa Ruby pulang. Malam ini mereka diantar oleh paman mereka."
Farah menggigit bibir, matanya mulai berkaca-kaca. "Kasihan Ruby... pasti dia syok banget."
"Iya," Kak Raihan menjawab sambil menatap mereka dengan tegas namun penuh empati. "Jadi, tolong jangan membahas ini dulu di depan siswa lain. Biarkan Ruby tenang dulu. Kalau kalian mau kirim doa atau dukungan, lakukan setelah dia kembali."
Olivia mengangguk pelan, masih berusaha mencerna informasi itu. "Kak, makasih udah kasih tahu. Kami... kami bakal berdoa buat bunda Ruby."
Kak Raihan tersenyum tipis dan mengangguk sebelum melangkah pergi, meninggalkan Olivia, Shafa, dan Farah yang masih berdiri diam, mencoba menerima kenyataan yang baru saja mereka dengar.
Olivia yang masih terkejut dengan kabar tentang Ruby tiba-tiba mendengar suara Kak Raihan memanggilnya. "Olivia, sini sebentar. Aku mau ngomong," katanya dengan nada serius tapi tetap ramah.
Dengan bingung dan sedikit khawatir, Olivia mengikuti Kak Raihan menjauh dari Shafa dan Farah, yang hanya bisa saling melirik penuh tanya. Kak Raihan berhenti di dekat tangga menuju lantai atas asrama.
"Ada apa, Kak?" tanya Olivia, mencoba menjaga nada suaranya tetap netral meskipun pikirannya masih kacau.
Kak Raihan menarik napas dalam, lalu menatap Olivia dengan ekspresi profesional. "Olivia, aku tahu ini bukan waktu yang ideal, apalagi setelah yang terjadi sama Ruby. Tapi aku butuh bantuanmu."
Olivia mengerutkan kening. "Bantuan apa, Kak?"