Dormitory Tales : A Love Story

Nisa
Chapter #17

BAB 17

Shafa yang sedang berdiri di balkon lantai 2 tiba-tiba memanggil Farah dan Olivia dengan nada penasaran. "Eh, eh, kalian ke sini deh! Itu kayaknya Erlangga sama Silvia di taman. Lagi ngomong serius tuh."

Farah buru-buru bergabung sambil melongokkan kepala ke bawah. "Hah? Mana, mana? Oh iya, itu mereka kan? Ngapain di sudut taman malam-malam gini?"

Olivia yang tadinya sudah ingin rebahan di kasur, akhirnya ikut bergabung, meskipun dengan langkah malas. Begitu melihat pemandangan di taman, matanya menyipit. "Hmmm... curiga banget deh. Itu ngobrol apa, sih? Kok mukanya serius banget?"

Shafa menopang dagu dengan tangan, matanya tak lepas dari pemandangan di bawah. "Kayaknya bukan obrolan biasa. Mungkin Erlangga lagi confess? Atau mereka ribut gara-gara sesuatu? Tapi kalau ribut, kok nggak kelihatan marah ya?"

Farah mengangguk, ekspresinya setuju. "Iya, bener. Kalau mereka ribut, pasti udah heboh dari tadi. Ini malah kelihatan kayak... gimana ya, kayak saling curhat."

Olivia mengangkat alis, kemudian bersandar di dinding balkon. "Duh, kita ini kayak paparazzi nggak sih, ngintipin orang dari jauh gini? Lagian, itu urusan mereka. Kenapa kita jadi kepo?"

Shafa menoleh ke Olivia dengan senyum penuh arti. "Yaelah, Liv. Namanya juga seru. Kan nggak setiap hari kita lihat Silvia ngobrol berdua sama cowok di taman malam-malam gini."

Farah menambahkan dengan nada menggoda. "Apalagi Erlangga tuh HTS-nya Silvia kan? Jangan-jangan sekarang statusnya mau naik tingkat."

Olivia memutar bola matanya sambil menahan senyum. "Kalian ini kok mikirnya jauh banget. Kalau cuma ngobrol biasa gimana? Bisa aja Erlangga lagi cerita soal tugas sekolah, atau mungkin dia butuh bantuan Silvia buat sesuatu."

Shafa menggeleng sambil terkikik. "Ah, nggak mungkin. Ini vibe-nya beda, Liv. Aku yakin ada sesuatu di antara mereka."

Mereka bertiga akhirnya terdiam sejenak, memperhatikan bagaimana Erlangga dan Silvia masih berbicara dengan ekspresi yang serius, meskipun terdengar tawa kecil sesekali.

Farah mencondongkan tubuh sedikit ke depan dan berbisik. "Duh, aku jadi penasaran. Tapi nggak mungkin kita turun buat tanya langsung, kan?"

Shafa terkekeh sambil menarik Farah kembali ke posisi aman. "Ya jelas nggak mungkin, Far. Kita tunggu aja besok pagi. Siapa tahu Silvia cerita."

Olivia hanya menghela napas sambil berjalan menjauh dari balkon. "Oke, kalian lanjut aja kepo-kepoannya. Aku mau siap-siap tidur. Kalau besok ada gosip baru, kasih tahu aja."

Shafa dan Farah saling melirik, kemudian tertawa pelan. Dalam hati, mereka sudah memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Silvia dan Erlangga.

Belum lama Shafa dan Farah selesai menggosipkan pemandangan di taman tadi, pintu kamar 207 terbuka dengan keras. Silvia masuk dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca, langsung membuat Shafa, Farah, dan Olivia terkejut.

"Silvia?!" Farah langsung bangkit dari kasurnya. "Kenapa? Kamu nangis?"

Silvia menggeleng cepat, tapi air matanya sudah jatuh. "Aku... aku nggak tahu harus cerita ke siapa lagi... jadi aku ke sini."

Olivia yang tadinya sudah siap-siap tidur, kembali duduk di pinggir kasur sambil menatap Silvia penuh perhatian. "Silv, duduk dulu. Tarik napas, pelan-pelan. Apa yang terjadi?"

Lihat selengkapnya