Dormitory Tales : A Love Story

Nisa
Chapter #21

BAB 21

Keesokan harinya, suara adzan subuh yang merdu membangunkan Shafa, Olivia, dan Farah dari tidur mereka yang masih berat. Jam menunjukkan pukul 5 pagi, dan meskipun mata mereka terasa berat, mereka tahu sudah saatnya untuk bangun.

Olivia, yang biasanya lebih cepat bangun, membuka matanya dan meraih ponsel untuk melihat jam. "Aduh, sudah subuh!" katanya sambil sedikit terkejut. Dia cepat-cepat bangkit dari tempat tidur dan mengambil sajadahnya. "Farah, Shafa, ayo cepat! Jangan sampai telat sholat!"

Farah yang tidur lebih lelap sempat melirik jam dan langsung terbangun. "Iya, iya... aku bangun," jawabnya sambil setengah mengantuk dan mengusap matanya.

Shafa, yang terletak di ranjang atas, mulai bergerak perlahan. "Hah? Subuh? Oh, iya," jawabnya sambil menguap dan turun dari ranjang dengan langkah tergesa-gesa. "Gak mau kena karma telat sholat," katanya sambil tertawa kecil.

Ketiganya sholat subuh secara bergantian. Olivia yang pertama selesai langsung keluar dari kamar mandi dan mencuci wajahnya. Farah menyusul setelahnya, dan Shafa baru selesai beberapa menit kemudian. Masing-masing dari mereka merasa segar setelah berwudhu dan berdoa.

Olivia sambil merapikan rambutnya, bertanya, "Eh, Farah, kamu udah siap pake bando apa buat apel pagi nanti?"

Farah melirik sekilas ke arah meja mereka yang sedikit berantakan. "Hmm, kayaknya aku pake yang itu aja, warna biru. Simple. Kamu?"

Olivia mengangguk, "Biru juga bagus. Aku yang pink aja, ya. Tapi kayaknya rambut aku hari ini agak susah diatur deh."

Shafa yang sedang sibuk mengikat rambutnya di atas ranjangnya ikut menyela, "Aduh, aku malah males banget hari ini. Rambut aku kusut semua." Dia tertawa geli sambil berusaha menata rambutnya yang berantakan. "Bener-bener deh, rambut aku gak mau nurut. Sering banget kayak gini."

Farah mengernyitkan dahi sambil melihat ke cermin. "Rambut kita memang sering gak bisa diajak kompromi. Aku juga sering pusing. Tapi yaudahlah, yang penting rapi."

Olivia memandangi dirinya di cermin sejenak. "Jadi, jepitan atau gak ya?" tanyanya ragu. "Kalau aku pake jepitan, rasanya kayak terlalu kaku deh. Tapi kalau gak pake, rambutku kemana-mana!"

Shafa tersenyum geli. "Kalau aku, mending jepitan aja. Biar ada gaya sedikit. Tapi ya gak usah yang terlalu ribet, nanti malah gak nyaman."

Mereka akhirnya sepakat dengan penampilan sederhana tapi rapi, dan segera menuju ke bawah untuk apel pagi. Sesampainya di halaman, mereka melihat hampir semua siswa sudah berkumpul dalam barisan, siap untuk apel pagi. Mereka segera bergabung dan berdiri dengan rapi. Shafa menatap sekeliling, sambil berkata, "Wah, barisannya rapi banget ya. Semoga gak ada yang telat lagi deh."

Tak lama, terdengar suara kak Raihan lewat speaker. "Perhatian, apel pagi dimulai! Semua siswa kelas 10 segera ambil posisi di barisan!"

Lihat selengkapnya