Saat Olivia asyik menikmati sarapannya, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Beberapa kali, dari sudut matanya, ia menangkap sosok kak Raihan yang tampak melirik ke arahnya. Awalnya, Olivia mencoba mengabaikannya, berpikir mungkin hanya kebetulan. Namun, setelah dua—tiga kali, ia mulai merasa sedikit canggung.
"Kenapa sih, kak Raihan ngelihatin terus?" gumamnya dalam hati, berusaha tetap fokus pada nasi gorengnya yang tinggal setengah.
Namun, detik berikutnya, Olivia pura-pura sibuk dengan sendoknya, berusaha tetap tenang. Ia tidak mau terlihat aneh atau terlalu memperhatikan. Lagipula, kak Raihan kan pacarnya kak Syahla.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, kak Raihan melangkah ke arah meja 12. Olivia langsung menegang, berusaha tetap terlihat santai.
Kak Raihan berhenti tepat di sampingnya, lalu bersandar sedikit ke meja dengan ekspresi santai tapi nadanya sedikit serius dengan bahasa lembut, "Olive, jangan sisain nasi. Mubazir, ya?"
Olivia menatapnya dengan bingung sejenak. Seketika, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena omelannya, tapi karena... kenapa sih, dari sekian banyak orang, kak Raihan harus repot-repot mengingatkan dia?
Ia menelan ludah pelan, lalu mencoba menenangkan diri. "Iya, kak. Aku habisin kok," jawabnya sambil menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mungkin mulai memerah.
Kak Raihan mengangkat alisnya sedikit, seperti hendak memastikan, lalu mengangguk santai. "Bagus. Jangan kebanyakan milih-milih makanan," ujarnya sebelum melangkah pergi dengan gaya cool-nya.
Olivia menghela napas perlahan setelah kak Raihan menjauh, menyendok nasi dengan lebih cepat dari sebelumnya. Dia tidak tahu apa maksud sikap kak Raihan tadi—apa itu hanya perhatian biasa atau ada sesuatu di baliknya. Yang jelas, tidak ada yang menyadari interaksi kecil itu... kecuali dirinya sendiri yang masih merasa aneh dengan debaran dadanya.
Saat Olivia masih berusaha menenangkan dirinya setelah interaksi singkat dengan kak Raihan, tiba-tiba suara pelan terdengar di telinganya.
"Hati-hati, Liv... kamu itu tipe si Raihan," bisik kak Rozi sambil menyenggol lengannya sedikit.
Olivia hampir tersedak nasi gorengnya. Dengan cepat, ia menoleh ke arah kak Rozi yang kini memasang senyum jahil, jelas menikmati reaksinya.
"Hah? Kak, maksudnya apa?" bisik Olivia, berusaha tetap tenang, tapi jelas ada nada panik dalam suaranya.
Kak Rozi terkekeh pelan sambil mengaduk teh manisnya. "Gak ada maksud apa-apa kok... cuma ya, hati-hati aja."
Olivia semakin bingung, tapi juga merasa pipinya mulai panas. Ia menatap nasi gorengnya yang tiba-tiba jadi kurang menarik, lalu kembali melirik ke arah kak Raihan yang sekarang sudah duduk kembali dengan ekspresi biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa.
"Enggak mungkin, Kak. Kak Raihan kan sama kak Syahla," gumam Olivia, lebih kepada dirinya sendiri.
Tapi kak Rozi hanya mengangkat bahu, masih dengan senyum misterius. "Ya udah, kalau kamu gak percaya. Aku sih cuma kasih tahu aja."
Olivia menghela napas panjang. Kenapa pagi-pagi begini dia harus denger sesuatu yang bikin pikirannya makin kacau.