Apa yang paling ditakuti manusia saat napas terakhirnya terenggut?
Jawabannya, terkubur jauh di bawah sana. Sebuah ruang siksa abadi yang kita sebut Kalantaka.
Tempat itu bukan sekadar muara bagi mereka yang mati dengan dosa yang menumpuk, melainkan rongga semesta yang membusuk. Sebuah tempat yang di penuhi oleh bau amis dan darah yang mendidih bersama nanah. Disana juga, keheningan tidak pernah terjadi, selalu ada jeritan kesakitan yang terus berbunyi tanpa jeda.
Di atas tanah tandus itu, sesosok pemuda telanjang baru saja dilempar mentah-mentah setelah rambutnya dicengkeram kasar oleh tangan raksasa berwajah arang membara.
Belum sempat tulangnya menyatu, algojo Kalantaka itu kembali menyiksa. Rantai besi berpijar menyambar pergelangan tangannya, mengangkat tubuh yang nyaris kehilangan bentuk itu tergantung tanpa daya. Tanpa buang waktu, cambuk berduri yang menyala terang diayunkan, merobek daging sang pendosa dan jeritannya yang tenggelam oleh deru lautan lava.
Namun, derap langkah berat membelah gemuruh api. Dua bayangan petinggi alam baka, yaitu Zakra dan Siva muncul berdampingan, membawa aura dingin yang langsung membekukan udara neraka.
"Cukup, Kruda." Zakra melirik sekilas ke arah sang algojo yang sedang mengangkat cambuknya.
"Tinggalkan dia."
Kruda mendengus kasar, mengeluarkan getaran rendah dari tenggorokannya sebelum berbalik menjauh. Hanya dengan satu jentikan jari, Zakra melenyapkan rantai panas yang ada di pergelangan si pendosa itu, membuat tubuh compang-camping itu ambruk mencium tanah.
"Beruntung sekali kau, cacing tanah."
"Walsta memanggilmu" desis Zakra.
Pemuda itu hanya mengerjap lambat, menunduk dalam sisa-sisa kesadarannya. Tulangnya remuk, napasnya tersengal di antara genangan darah. Namun, Siva tidak peduli. Jemari wanita itu mulai merapal mantra, memaksa kerangka remuk itu berdiri tegak, lalu melilitkan rantai gaib di leher pemuda itu.
"Jalan!" perintah Siva, sambil berbalik melangkah.
Langkah Siva, terhenti seketika, dan tarikannya tertahan. Hal itu membuat Siva menoleh. Pemuda itu mencengkeram erat rantai yang melilit lehernya sendiri, menolak bergeser sedikit pun.
Zakra pun ikut berbalik, matanya menyipit tajam. "Apa yang kau lakukan, manusia hina?"
Daripada menjawab, pemuda itu mendongak. Di balik kepingan luka dan darah yang menutupi wajahnya, sepasang mata menyala tajam, membara dengan kebencian.
"Aku..." suaranya bergetar, parau.
"...tidak sudi tunduk pada kalian!"
"Manusia busuk yang penuh keangkuhan. Pantas saja tempat ini jadi muara akhirmu." balas Zakra.
Siva mendengus dingin. Tanpa buang waktu, ia tidak memberi ruang bagi pembangkangan itu. Pergelangan tangannya menyentak ke depan, memperkuat tarikan rantai gaib di leher si pemuda.
Tarikan itu begitu brutal hingga membuat napas sang pemuda tersedak seketika. Tubuhnya yang compang-camping kehilangan keseimbangan, tersungkur keras ke tanah tandus. Namun Siva tidak berhenti, ia terus menarik rantai itu tanpa ampun, menyeret tubuh sang pemuda di atas tanah berdebu mengikuti langkah dingin kedua petinggi alam baka tersebut, meninggalkan jejak darah yang tersapu kobaran api Kalantaka.