Suara tawa meluncur dari balik tudung hitam, memecah keheningan Abysarra. Alih-alih menciut di hadapan para penguasa dimensi, pemuda itu justru mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Dengan gestur sinis yang terang-terangan menantang, telunjuknya teracung lurus-lurus menuding tepat ke arah Siva.
"Oh... jadi kalian sengaja menarikku keluar dari Kalantaka hanya untuk membersihkan kebodohan yang ditinggalkan penjaga arsip itu?" ucap pemuda itu dengan tajam.
Pemuda itu memutar pandangannya, beralih menatap Walsta dengan seringai remeh.
"Menyedihkan sekali," lanjutnya tanpa gentar.
"Ke mana perginya seluruh kekuatan agung kalian?. Sampai-sampai seorang pendosa bisa kabur membawa benda paling berharga di alam baka."
Zakra yang dari tadi diam, langsung mendidih seketika. Membuat tekanan atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi dingin dan mematikan. Zakra mulai melangkah maju dengan hentakan kaki yang menggetarkan lantai Abysarra hingga retakan-retakan halus berpendar di permukaannya. Tangannya mengepal, mencengkeram udara dengan brutal.
Kraak!
Tekanan tak kasat mata menghantam leher pemuda itu tanpa ampun, memaksanya terangkat hingga kedua kakinya menggantung bebas di udara. Wajah pemuda dari kalantaka itu seketika memucat, urat-urat di pelipisnya menonjol menahan sesak yang luar biasa.
"Jaga mulutmu, bangkai!" geram Zakra, suaranya bergetar karena murka.
"Kau pikir kau siapa berani merendahkan penguasa alam baka?!"
Zakra menekan cengkeramannya lebih kuat. "Satu kata lagi keluar dari mulut kotormu, aku sendiri yang akan mencabut lidahmu, lalu merendamnya ke dalam api Kalantaka yang paling hitam sampai kau memohon untuk hancur!"
Walsta perlahan mengangkat sebelah tangannya. "Cukup, Zakra."
Seketika itu juga, cengkeraman tak kasat mata di udara lenyap tanpa sisa. Tubuh pemuda itu terbanting jatuh ke lantai, terbatuk-batuk hebat sambil mengatur napasnya yang nyaris putus.
"Dia pun tidak punya pilihan," ucap Walsta dingin.
"Dia ingin mengakhiri bayangan masa lalunya yang bahkan tidak mampu kau bayangkan sendiri. Bukankah, begitu?"
Tanpa disentuh, tubuh pemuda itu dipaksa berdiri tegak oleh kekuatan penguasa Abysarra itu. Pemuda itu hanya terdiam mendengar kalimat Walsta.
"Jika tidak tertarik atas tawaranku, maka percakapan ini selesai. Zakra, himbau Kruda untuk menjemput K-1000 kembali ke rumahnya." Sambung Walsta lagi.
Walsta pun mulai membalikkan tubuhnya, bersiap melangkah kembali menuju singgahsana agungnya. Namun, pemuda itu akhirnya mengeluarkan suara.
"Tunggu,"
"Aku setuju. Tapi, kau sungguh akan memberikan gulungan itu padaku, kan?"
Walsta berhenti. Ia tidak membalikkan seluruh badannya, hanya melirik sedikit ke belakang.
"Baiklah, Aku setuju. Katakan, apa yang harus kulakukan?"
Walsta mulai membalikan tubuhnya lagi dan menuju ke pemuda itu.