Siva dan sang pendosa tiba di depan Gerbang Samsara. Di sana, Sakhta dan Sakhti berjaga dengan posisi tegak, menggenggam tombak raksasa di tangan mereka. Zakra sudah menanti di sana, berdiri di samping bayangan Walsta yang kini memadat.
Pemuda itu melirik kedua penjaga berbadan raksasa itu dengan sebelah alis terangkat, lalu berbisik pelan pada Siva di sampingnya.
"Siapa dua makhluk buruk rupa itu?" tanyanya dengan suara sangat pelan.
"Jaga ucapanmu. Mereka sebenarnya sangat rupawan. Hanya penghuni Elarion yang bisa melihat kesempurnaan mereka" gumam Siva memperingatkan.
"Kau siap?" tanya Zakra tajam.
"Iya, cepatlah. Aku sudah tidak sabar untuk menghirup udara di dunia"
"Namun sebelum itu, kau akan kuberikan sebuah kemampuan yang tidak dimiliki manusia biasa," ucap Walsta menggema.
"Namun, setiap kemampuan memikul sebuah tanggung jawab."
"Baiklah, cepat berikan"
Zakra yang sudah muak melihat keangkuhan pemuda itu langsung menendang betisnya, memaksanya berlutut di hadapan Walsta. Dengan terpaksa dan wajah tertekuk kesal, pemuda itu berlutut satu kaki. Walsta kemudian mengarahkan tangannya ke arah pemuda itu, dan merapalkan mantra.
"Sudah?" tanya pemuda itu begitu cahaya dari kepalanya meredup.
Setelah itu, pemuda itu bangkit, lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah Zakra, mencoba menguji kekuatan barunya.
"Tidak terjadi apapun"
"Sakhta, lemparkan pemuda ini sekarang" ucap Zakra yang urat lehernya sudah menegang karena jengkel.
"Hei... kemampuannya... aku belum merasakannya!" protesnya.
Tubuhnya kini tiba-tiba terangkat oleh tangan Sakhta yang berukuran tiga kali lipat lebih besar darinya.
"Tuan buruk rupa. Maksudku, Sakhi. Eh, Sakhu. Saktha"
"Kau memegangku dengan sangat kasar! Aku ini penyelamat alam baka, kau harusnya menghormatiku, kau..." Suara ocehannya yang belum selesai itu perlahan menjauh.
Membuat tubuh pemuda Kalantaka itu terhempas arah pusaran Gerbang Samsara.
Wusss!
Pusaran cahaya Gerbang Samsara menelannya bulat-bulat, melontarkannya menembus dimensi ruang yang dingin dan hampa. Jiwa yang tadinya terbiasa dengan siksaan Kalantaka kini merasakan sensasi yang asing. Sebuah tarikan gravitasi yang sempit, dan berdenyut. Ia ditarik paksa ke dalam rahim seorang wanita yang sedang berjuang di ambang batas antara hidup dan mati.
***
Di sebuah tempat, yang bernama Desa Duhwa, terlihat keringat bercucuran di pelipis sang ibu, napasnya memburu di tengah perjuangan panjang yang telah memakan waktu berjam-jam. Dengan satu hentakan terakhir yang menguras seluruh tenaga, jeritan sang ibu memecah keheningan malam, disusul oleh suara tangis bayi yang melengking nyaring, memenuhi ruang persalinan yang hangat.
"Selamat, bayi kalian laki-laki" ucap sang bidan lembut, seraya menyambut tubuh mungil yang basah itu.