DOSA YANG KITA SEBUT KELUARGA

Fasihi Ad Zemrat
Chapter #1

MANIS UMUR PENDEK

Saka menatap layar komputernya lekat-lekat, meski jam makan siang baru lewat lima menit lalu. Sudah tak ada siapa pun di samping kanan-kiri Saka. Semua komputer sudah mati. Dengung suara mesin forklift sudah tak terdengar. Riuh suara orang-orang pun sudah tak ada. Di area mezzanine, tempat kubikel admin logistik, hanya tersisa Saka.


Lelaki dengan seragam kaos polo yang agak kusam itu tengah membuka spreadsheet karyanya sendiri. Dia memasukkan nominal dua belas ribu rupiah untuk bensin hari ini di baris terakhir pengeluaran harian. Saat tombol enter ditekan, rumus di baris paling bawah otomatis mengalkulasi sisa dana akumulasi gajinya. 


Saka mengangguk pelan. “Seratus sepuluh juta. Cukup.”

​Dia menghela napas panjang, lalu meluruskan kakinya di bawah meja. Sol depan sepatu pantofel kirinya yang menganga dipaksa merapat ke lantai. Tiga kali dilem pakai lem tembak minggu ini, bagian ujungnya tetap saja menyerah setiap kali dipakai berjalan jauh.

“Makan, yuk!” ajak Ziva.


Dengan cepat, Saka memutar kursinya, menghadap Ziva. “Yuk!” jawabnya singkat.


Mata gadis yang sebulat bola pimpong itu tertuju pada komputer Saka. “Kok masih nyala, lagi ngapain, sih?” tanyanya.


Saka buru-buru menekan Alt + Tab, lalu berdiri dari kursinya untuk menghalangi pandangan Ziva dari layar. Namun, gerakannya kalah cepat. Ziva sudah lebih dulu menangkap sekilas sekumpulan kolom bernominal asing yang sangat berbeda dari format data gudang harian. 


“Nanggung tadi,” jawabnya asal.


“Tapi itu tadi kok …,” sela Ziva.


Tak mau Ziva menyadari apa yang dirinya lakukan, Saka segera mengambil kotak makannya lalu menarik tangan Ziva. “Udah-udah, jadi makan nggak?”


Ziva tersenyum. Sekilas, pandangannya masih tertuju pada komputer Saka. Ziva pun jadi berpikir, apakah Saka menyembunyikan sesuatu darinya? Tapi apa?


“Nggak pesen minum atau es teh?” tanya Ziva begitu mereka duduk di kantin kantor. 


“Bawa air putih dari meja, kok. Kamu kalau mau pesan makan, pesan aja,” jawab Saka enteng. 


Ziva tertawa ringan. “Tara!” ujarnya semangat. Tangannya mengangkat tote bag.


“Baunya kok wangi,” papar Saka, matanya mengikuti gerakan tangan Ziva yang mengangkat tote bag.


“Aku nggak tega liat kamu makannya itu-itu mulu, jadi aku bawain, deh.” Ziva mengeluarkan dua kotak makanan dari tote bagnya. “Makan yang banyak, gih. Aku nggak mau kamu tambah kurus,” tambahnya.


Mata Saka bersinar-sinar melihat dua jenis bekal yang dibawa Ziva. Lidahnya yang terbiasa dengan nasi dan sayur bening tak sanggup menahan refleks. Mulutnya mendadak berair. Tiga tahun ini, dia masih sanggup menahan untuk tak beli apa pun bahkan sekadar rendang warung padang. Tapi jika ditawari seperti ini, mana mungkin dia bisa menahan diri. Tanpa perlu disuruh dua kali, Saka langsung mengambil lauk yang disediakan Ziva.


Tak ada pemandangan indah selain melihat makanan yang dibuat susah payah, dimakan begitu lahap. Setidaknya itulah yang membuat senyum manis bersinar begitu terang di bibir Ziva.


Lihat selengkapnya