DOSA YANG KITA SEBUT KELUARGA

Fasihi Ad Zemrat
Chapter #3

MINUS 1 JUTA

“Muka lo tuh udah kusut! Nggak usah dibikin tambah kusut, deh,” tanggap Nano, kawan sebelahnya di kubikel admin logistik.


“Sialan lo,” balas Saka pelan. Dia mengalihkan pandangan ke monitor, berusaha mati-matian menutupi kehancuran yang meremukkan dadanya sejak semalam. Dia harus tetap terlihat normal agar tak satu pun orang menyadari bencana yang sedang menimpanya, terutama Ziva.


Nano menggeser kursinya mendekati Saka, lalu menepuk bahu kawannya itu. “Wajah lo tuh kayak bapak-bapak anak tiga yang diteror pinjol, tahu nggak?”


Kata pinjol menyenggol saraf di kepala Saka. Jantungnya berdesir kencang, tetapi Saka dengan cepat memaksa ekspresinya tetap datar. Dia lantas memutar bola mata malas.


“Makanya sesekali liburan bareng gue. Hidup lo isinya cuma kerja sama ngirit doang,” lanjut Nano.


Saka menatap Nano sangsi. “Emang, lo yang hidupnya cuma foya-foya kayak pejabat?”


“Oh, ya harus dong.” Nano menyilangkan tangan di dada. “Mereka bisa foya-foya, kenapa kita nggak?”


“Karena kita miskin, Nano. M-I-S-K-I-N. Salah alokasi sisa gaji sedikit saja, minggu depan kita nggak makan.”


“Mana? Buktinya gue masih hidup.”


“Oh, gitu? Mana 500 ribu yang lo pinjam bulan lalu?” Saka menodongkan telapak tangan kanannya.


Nano nyengir kuda tanpa rasa dosa. “Gajian bulan depan, ya!”


Saka menggeleng pelan, berpura-pura mengembuskan napas jengkel untuk mencairkan suasana. Begitu Nano kembali menghadap layarnya, Saka membuka file laporan keuangan pribadinya. Jarinya gemetar hebat saat menyorot kolom angka yang kemarin masih berdiri kokoh di nominal seratus sepuluh juta rupiah.


Dengan napas tertahan, Saka menekan tombol delete. Angka seratus juta itu lenyap seketika, menyisakan angka sepuluh juta yang terasa amat sangat dingin. Di baris pengeluaran darurat, dia mengetikkan nominal seratus juta untuk pembayaran utang. Rasanya seperti menyayat kulitnya sendiri. Uang yang dia kumpulkan berdarah-darah selama tiga tahun demi masa depannya bersama Ziva, kini menguap dalam semalam tanpa sisa.


Saka menatap layar komputernya dengan tatapan kosong, berharap nominal itu berubah kembali secara ajaib. Namun, angka di spreadsheet itu tidak bohong. Bencana ini nyata. Uang sepuluh juta di rekeningnya memang cukup untuk membayar cicilan Dasa lusa. Namun, sisanya yang tinggal dua juta jelas tidak cukup untuk kebutuhan dan obat. Saka harus mencari uang tunai harian secepatnya.


“Lo kalau ada pikiran, cerita kali, Ka. Siapa tahu gue bisa bantu dengar. Bayar psikolog kan mahal dan gue yakin lo juga nggak mau bayar kayak gituan,” celetuk Nano tanpa menoleh.


Saka menarik napas panjang, menutupi laporan keuangan pribadinya lalu membuka sistem inventory kantor. “Bangke lu,” balas Saka pelan, menata intonasi suaranya agar terdengar seandal biasa.


Saka lalu mulai menginput kode barang masuk dan mencocokkannya dengan laporan gudang. Baru beberapa data masuk, Nano kembali memutar kursinya menghadap Saka.


“Lo ngapain sih natap gue mulu?” potong Saka tanpa mengalihkan mata dari kertas tally sheet.

Lihat selengkapnya