DOSA YANG KITA SEBUT KELUARGA

Fasihi Ad Zemrat
Chapter #4

TAHU FANTASI DAN MAYAT HIDUP

“Kenapa tadi malam nggak jadi?” tanya Ziva tanpa basa-basi.


Suara Ziva menyenggol saraf di kepala Saka yang sudah tegang sejak semalam. Gadis itu berdiri dua langkah dari meja kerja Saka. Dia membawa sebuah kantong kertas berisi makan siang yang aromanya langsung tercium. Wajahnya tenang, tapi ada sorot kecewa yang ditutupi rapat-rapat.


Saka refleks membalikkan layar ponselnya, mencegah Ziva melihat tampilan browser yang menampilkan pencarian 'Resep jajanan modal 50 ribu yang gampang laku'.


“Maaf,” katanya dengan nada rendah.


Ziva mengembuskan napas sembari memandang Saka. Ada rona kekesalan di sana, tapi dia berusaha memahami Saka.“Aku nggak papa kok kalau kita mau split bill. Aku juga nggak masalah kok kalau kita mau nonton sambil nyelundupin snack di jaketmu. Aku cuma kesel kamu batalin janji, alasannya nggak jelas lagi. Kamu cuma ngirim pesen. Udah. Habis itu, hpmu mati sampai pagi.”


Mendengar tudingan beruntun yang dikemukakan Ziva, membuat Saka terperangah. Dia heran kenapa Ziva bisa berpikiran seperti itu.


“Nggak gitu, Ziv,” tolak Saka.


“Terus kenapa?”


Saka mengulum bibirnya, berusaha merangkai kata yang pas tanpa membocorkan keadaannya sekarang.


“Semalam … jantung Ibu kumat,” papar Saka. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, kaku dan terasa asin di lidah. “Aku harus nemenin Ibu sampai subuh. Aku nggak tahu kalau ponselku kehabisan baterai.”


Raut wajah Ziva berubah seketika. Kecewa di matanya luntur. Air mukanya pun berganti cemas. “Astaga … kenapa nggak ngomong dari tadi? Terus kondisi Ibu sekarang gimana?”


“Alhamdulillah sudah stabil. Cuma ya gitu lah, harus banyak istirahat.”


Ziva bernapas lega. “Ya udah, nanti pulang kantor aku ikut ke rumahmu, ya? Aku mau jenguk.”


“Jangan!” larang Saka spontan.


Ziva mengerutkan dahi. “Kenapa?”


Saka menelan ludah, otaknya berputar keras mencari kebohongan lanjutan sebelum Ziva menangkap keanehan pada dirinya. 


“Dokter minta Ibu tenang dulu. Nggak boleh ada sesuatu yang ngagetin Ibu. Aku aja semalem ditendang waktu mau bersin. Dokternya sampe melotot kayak mau nyopot hidungku. Pokoknya ... Ibu sama sekali nggak boleh diganggu. Nanti kalau Ibu udah membaik, aku yang ajak kamu ke rumah.”


Ziva menghela napas. Dia akhirnya mengangguk pasrah. "Ya udah, nih aku bawain lauk lagi. Makan yang banyak. Aku nggak mau kamu sakit."


Saka tersenyum. “Kan ada kamu yang selalu jagain aku.”


Ziva tersipu. Dia langsung mencubit Saka gemas. “Yang benar kalau ngomong!”


Saka tertawa. Ziva diam-diam mengamati Saka. Dia menaruh curiga.


*** 


Malamnya ketika jam menunjukkan pukul tiga subuh, dapur Saka mulai menguarkan aroma makanan. Harum telur kocok yang bercampur dengan bawang putih dan rasa putus asa, sempurna membumbung tinggi.


Saka mematikan kompor. Tangan kanannya mengelap keringat di dahi dengan lengan kaos. Dia melakukan peregangan, melepaskan kaku yang menjalar di sekujur tubuhnya. 


Sekarang, di atas meja seng dapur, tiga kotak plastik pipih berisi tahu fantasi sudah tertata rapi. Bentuknya presisi, telur puyuhnya tepat di tengah. Siapa pun yang melihatnya tidak akan menyangka kalau tahu sejelita ini lahir dari jemari lelaki yang kepalanya hampir pecah memikirkan utang dua ratus juta.


“Kamu mau bawa ke mana itu, Ka?”


Saka menoleh kaget. Ibunya berdiri di ambang pintu dapur, bersandar pada kusen kayu yang lapuk. Selimut masih melilit di bahunya. Wajah Ambar masih pucat.


“Ke kantin kantor, Bu,” jawab Saka pelan sambil menutupi kotak plastiknya. “Ibu Sum kantin gudang mau nampung jualan titipan. Lumayan, hasil jualannya bisa langsung diambil tunai sore nanti buat nambah pemasukan.”

Lihat selengkapnya