Suara adzan subuh dari surau terdekat baru saja meredap, menyisakan udara dingin yang menusuk pori-pori. Jalanan masih lengang. Matahari juga belum berniat bangun. Tapi Saka sudah bersiap di atas Motor Beat 2010 miliknya.
Saat ini, Saka telah mengenakan jaket hijau berlogo Grab. Jaket itu dia beli semalam dari tetangganya seharga tiga puluh ribu. Agak kebesaran dan tercium bau parfum murah yang menyengat, tapi tak apa daripada dia tak memakai atribut.
Sore kemarin, akunnya baru terverifikasi. Dia sempat menjajal satu orderan sepulang kerja, dan rasanya manis bukan main. Ditambah lagi, seluruh tahu fantasi yang dititipkannya kemarin habis tak bersisa.
Sempurna. Hari ini, sumber penghasilannya resmi menjadi tiga.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari Dasa.
“Waktu habis nanti malam. Uang atau rumah. Pilih salah satu.”
Saka menelan ludah. Jemarinya gemetar di atas layar ponsel. Dia tidak membalas. Dia mematikan layar, menjejalkan ponselnya ke dalam saku, lalu menarik napas dalam-dalam. Ketakutan itu dialihkannya menjadi dorongan untuk memutar gas.
Honda Beat merahnya yang catnya sudah memudar dan kulit joknya terkelupas mulai menderu.
“Sebentar lagi. Pasti bisa,” bisik Saka meyakinkan dirinya sendiri.
Belum sempat motornya meluncur jauh, sebuah suara menghentikannya. Ambar, dengan mukena yang masih melilit tubuhnya, berlari tergopoh-gopoh keluar gerbang sambil membawa kantung kresek.
“Jangan lupa sarapan!” ucap Ambar dengan napas terengah.
Dia lantas membuka tas ransel yang digendong Saka di depan dadanya, menyelipkan dua bungkus nasi, lalu merapikan kembali resletingnya.
“Ibu bungkuskan dua. Nanti dimakan, ya.”
Saka menatap wajah ibunya yang tak lagi pucat. Dia lalu meraih tangannya dan menciumnya lama.
“Doain aku, ya, Bu!” pintanya.
Ambar menepuk pundak Saka halus. “Pasti. Kamu jangan maksain diri, ya!”