DOSA YANG KITA SEBUT KELUARGA

Fasihi Ad Zemrat
Chapter #6

SEBELUM LIMA SORE

Sepanjang tiga kilometer pertama, tak ada percakapan. Hanya raungan Beat tua dan deru jalanan pagi. Saka berulang kali melirik spion, tapi tiap kali matanya bertabrakan dengan mata si penumpang, dia terburu-buru melempar pandangan kembali ke aspal. Penumpangnya mendekap sang bayi rapat-rapat. Dia baru mencengkram pinggang Saka, saat lelaki itu mengerem mendadak.


Perlu waktu seperempat jam untuk sampai ke sebuah klinik bayi. Penumpang itu pun turun dan membayar ongkos. Saka sempat bingung ketika menyapu pandang klinik itu. Klinik dengan papan nama yang sudah hampir terkelupas, bercat kusam, dan berlumut. Mata Saka yang semula datar, berubah nanar. Bola matanya membesar. Mulutnya terbuka. Pandangannya pun jatuh ke penumpang pertamanya yang membawa bayi itu. Dia ingin berkata sesuatu. Sayang masa lalu mencegahnya.


Tepat setelah memberikan ongkos sesuai di aplikasi, penumpang itu pun balik badan dan melangkahkan kaki ke klinik. Namun baru saja selangkah, penumpang itu berbalik lagi menghadap Saka.


“Maafin aku ya, Bang!” katanya lirih lalu berlari masuk ke klinik.


Saka kehabisan kata-kata. Dia tak sempat membalas perkataan adiknya. Meskipun semenjak bertemu dengannya tadi, Saka sempat terheran-heran dengan pakaian kumal Nabila. Dia hanya memakai daster bersandal jepit lama. Wajahnya tak bermake up, berbeda sekali dengan ketika mereka masih serumah dulu. Di antara itu, ada satu yang paling membuat Saka kepikiran. Saat menyadari bahwa driver yang menjemputnya adalah Saka, raut Nabila seperti ingin menangis.


Jika alarm ponselnya tak berbunyi, Saka sudah pasti akan menyusul adiknya itu. Sial, sebentar lagi dia harus masuk kantor. Jarak kantor dari tempat Saka berada juga jauh. Dia tak bisa membuang waktu barang semenit pun. Berangkat sekarang atau berakhir telat dan dimarahi atasan. Maka pilihan Saka hanya satu. Tidak, lebih tepatnya dia tak punya pilihan lain. Saka pun pergi.


*** 


Pukul tujuh lima puluh sembilan menit. Saka baru sampai di kantor. Segera dia memindai id card-nya lalu berlari ke kubikelnya. Dia memang belum telat, tapi jika dia belum berada di kubikel sebelum atasannya lewat, maka mungkin saja kiamat maju satu hari.


“Tumben?” komen Nano ketika melihat Saka yang tergesa-gesa meletakkan jaket ojolnya di kursi lalu duduk. Nano bertanya-tanya kenapa Saka berpenampilan acak-acakan. Rambutnya jauh dari kata disisir. Mata temannya itu yang dulu putih, sekarang merah lengkap dengan kantungnya. Baru lima menit jam kerja resmi dimulai, tapi Saka sudah seperti melewati 12 jam. Jika biasanya Saka yang datang sebelum Nano, sekarang untuk pertama kalinya, Nano datang lebih dulu.


“Lo mabok?” duga Nano kemudian.


“Gila! Nggak lah!” tepis Saka. Sesaat dia menarik napas lalu bertanya, “Telat banget gue, ya? Pak Broto udah dateng?”


“Udah di ruangannya, tuh!”


“Dia lirik ke sini, nggak?”


“As you know, lah. Mantan militer.”


“Sial!” Saka menepuk jidatnya. 


Saka masih ingat rutinitas aneh yang dilakukan Pak Broto. Atasannya yang sudah kepala lima itu dapat dikatakan gila hormat. Ketika dia naik jabatan menjadi manajer, dia meminta seluruh pegawai menyambutnya di samping kubikel sambil memberi hormat pagi. Parahnya ketika jam kerja selesai juga sama. Kantor logistik barang berubah seakan menjadi logistik senjata. Hierarki parah. Nasib untung kantor pusat menyadari banyak ketidak efektifan kegiatan yang diadakan Pak Broto, sehingga rutinitas amat tak penting itu dihentikan. Lalu kenapa Pak Broto tak diturunkan meski gila hormat, jawabannya adalah kedisiplinannya. Karena itu, Saka tahu sekarang dia jadi target utama. Senapan sudah ada di tangan Broto dan lokasi pelurunya tepat di jidat Saka.


Baru saja dibicarakan, sebuah notifikasi pesan masuk.


“Damn!” respon Nano saat ikut melihat pesan di monitor Saka.

Lihat selengkapnya