“Gimana kondisi, Ibu?” tanya Ziva, meneruskan pertanyaan yang kemarin.
Saka terdiam. Dia tak siap dengan pertanyaan Ziva.
“Baik,” katanya asal.
“Jadi boleh dong aku ke sana?”
“Eh jangan!” nada Saka mulai meningkat. Degup jantungnya bertambah cepat. Kepanikan mulai menggerogoti mentalnya. Jika Ziva ke rumahnya sore ini, maka dia akan bertemu Dasa. Dan itu mimpi buruk. Sangat buruk.
“Kenapa lagi?” geram Ziva.
Saka berpikir sejenak. Dia mengedarkan pandang, berusaha mencari ide. Saat pandangannya jatuh ke jaket ojol yang dia sembunyikan matang-matang, sebuah ide menancap di otaknya.
“Aku mau pergi sebentar. Ada hal penting yang harus aku urus.”
“Kan aku bisa ke sana dulu terus nunggu kamu.”
Saka tertawa ringan. “Kalau kamu ke rumahku sendirian, apa kata ibu nanti, dong.”
Ziva mengembuskan napas. Dia membuang wajah sejenak. “Kamu tuh lagi nyembunyiin apa, sih?” protesnya kemudian.
Saka terkesiap. Mulutnya terbuka dan wajahnya mendadak kaku. “Apa? Aku nyembunyiin sesuatu?” tanyanya sembari tertawa canggung. “Mana mungkin dong aku nyembunyiin sesuatu dari kamu,” sanggahnya kemudian.
“Ada orderan!” sela notifikasi Grab.
Saka buru-buru mengambil ponsel dan menurunkan volumenya. Dia memejamkan mata seraya mengumpat kenapa notifikasi datang di saat yang tak tepat.
“Lah itu apa?”
“Oh ini nada deringku yang baru,” jawab Saka asal.
Ziva menatap sinis Saka. Dia makin curiga. “Mana mungkin ….”
“Ya udah, Ziv. Aku na … pergi dulu, ya!” potong Saka buru-buru mengoreksi perkataannya. “Takut nanti kalau disuruh lembur beneran sama Pak Broto!” lanjutnya.
Tanpa menunggu persetujuan Ziva, Saka telah berlari ke parkiran. Buru-buru dia menekan tombol terima. Memakai jaket? Bisa nanti begitu dekat dengan penumpangnya. Namun satu yang dia tak sadari, Ziva berusaha membuntutinya diam-diam. Dengan mata kepalanya sendiri, Ziva melihat Saka yang melesat pergi memakai helm Grab.
***