DOSA YANG KITA SEBUT KELUARGA

Fasihi Ad Zemrat
Chapter #8

TAK MUNGKIN DIAM

“Belum ada, Bu.”


“Belum ada.”


“Nggak bakal ada.”


“Ngapain ke sini lagi?”


“Udah dibilang bakal jahit sendiri.”


“Emang bisa benerin pakaian harga jutaan gini, ntar jadi tambah rusak. Emang bisa ganti rugi?”


Ambar menyunggingkan senyum, berterima kasih, lalu pergi. Dia kembali mengayuh sepedanya yang usang. Saat pedal sepeda itu berputar, terdengar derat rantai yang menyenggol penutupnya. Karat sudah pasti menghiasi beberapa bagian. Cat sepedanya pun sudah usang. Tak jelas apakah itu warna merah, pink, kuning, atau putih. Namun Ambar tak peduli. Dia terus mengayuh sambil membawa pamflet promosinya.


Masih jelas ingatannya tentang tubuh Saka yang bergetar kelalahan. Anaknya itu selalu bangun jam dua demi menggoreng tahu. Belum juga subuh datang dengan sempurna, dia sudah siap di atas motor, hendak mengantar sekaligus menarik ojek. Semenjak utang dua ratus juta itu diketahui Saka, dia tak pernah bisa lagi makan di rumah. Saka juga selalu pulang malam. Tak pernah tersenyum. Tak pernah lagi ada binar kehidupan di matanya. 


Pernah suatu hari Ambar menyentuh kening Saka. Kening Saka begitu panas. Saka juga terlihat menggigil. Tapi bukannya istirahat, anak sulung Ambar itu tetap saja melakukan aktivitas seperti biasa.


Ambar tak bisa lagi berpangku tangan. Hatinya sakit tiap kali melihat Saka memaksakan diri. Kendati sudah hampir seminggu dia menyebarkan pamflet jasa menjahitnya, dia tak gentar. Dia juga tak tumbang meski makian, penolakan, dan pengabaian, dia terima. Ambar rela berkali-kali dia mengetuk pintu satu per satu demi mendapatkan baju rusak yang bisa dia jahit. Apa pun dia lakukan demi bisa mengurangi beban Saka. Dia pun rela andai ada orang yang menelponnya tengah malam untuk menjahit. Ambar pasti datangi.


Untungnya baju-baju mulai berdatangan. Entah karena kasihan atau memang karena butuh, beberapa orang yang Ambar datangi memberikan baju mereka untuk diperbaiki.


“Ibu habis pergi?” tanya Saka suatu waktu setelah melihat sepeda yang terpakir di halaman rumah,


“Iya. Habis main sepedaan. Di rumah terus kan bosen,” ujar Ambar bohong.


Saka tersenyum, “Maafin Saka, ya, Bu. Saka nggak sempat ngajak Ibu pergi.”


“Jalan-jalan sama kamu mah bosen. Lebih enak nyepeda sendirian,” canda Ambar.


“Emang nggak bakal kesasar?”

Lihat selengkapnya