DOSA YANG KITA SEBUT KELUARGA

Fasihi Ad Zemrat
Chapter #9

HUJAN PETIR MANIS PEDAS

Jam menunjukan pukul enam sore. Bersamaan dengan Saka yang menekan good receipt dan menyetujui kuota barang di laporannya, gerbang gudang pun akhirnya ditutup. Penderitaan di kantor selesai sudah. Saka pun menyandarkan bahunya ke sandaran kursi. Dibukanya bekal dari ibunya tadi pagi lalu mengendusnya. Masih aman, pikirnya.


Sembari menyantap bekal siang yang berubah menjadi menu makan malam, Saka menyapu pandang. Sunyi. Tak ada siapa pun atau apa pun yang bersuara. Hanya bunyi kresek bungkus bekal Saka yang terdengar.


Saka mengembuskan napas. Untung saja bekal dari ibunya masih bisa dimakan. Dia tak dapat membayangkan bagaimana puluhan ribu terbuang sia-sia begitu saja. Perlu setidaknya 30 menit bagi Saka untuk menghasilkan uang satu porsi nasi padang itu. Dia tak mungkin tega membuangnya begitu saja.


Dalam kelelangan yang begitu dalam, Saka menatap jaket Grab-nya. Setelah ini dia akan mengaktifkan kembali aplikasinya lalu memakai jaket yang sempat dia tidak akui itu.


Suara dering telepon membuyarkan lamunannya. Saka melihat ponselnya lalu mengangkat telepon itu.


“Ya, Bu?”


“Sudah makan?” tanya Ambar di seberang.


“Sudah, dong. Tadi sayur yang ibu masakin masih ada. Terus makan sama Ziva. Ibu gimana?”


“Sudah, kok.”


Ambar bergumam. Suara napasnya terdengar berat. Demi mendengar itu, kening Saka pun berkerut. Dia menangkap ada sesuatu yang janggal.


“Ibu nggak papa?” tanyanya kemudian.


Ambar menghela napas. Dia terdengar ingin mengatakan sesuatu, tapi tak jadi. Keraguan tampak jelas di telinga Saka.


“Bu?” panggil Saka.


“Ka, kalau ada waktu tolong cari adekmu, ya! Perasaan Ibu nggak enak. Masa udah beberapa hari ini, nomornya nggak aktif,” curhat Ambar.


Saka terdiam. Dia teringat akan kondisi adiknya beberapa hari lalu.


“Ka?” tanya Ambar menggantung di ujung telepon.


“Iya, Bu. Insya Allah.”


“Ya sudah. Kamu hati-hati, ya! Jangan kemaleman!”


“Ibu itu yang suka kemaleman. Kalau aku belum pulang, tidur aja nggak pa-pa. Aku bawa kunci, kok. Masa wajah Ibu sampe pucat tadi pagi,” urai Saka.


Lihat selengkapnya