DOSA YANG KITA SEBUT KELUARGA

Fasihi Ad Zemrat
Chapter #10

DINDA JANGAN MARAH-MARAH

“Masih lama, ya, Mas?” tanya customer.


Saka memejamkan mata. Giginya bergemeretak. Ingin sekali dia mematikan aplikasi yang tak tahu suasana hati itu. Sial. Saka tak bisa melakukannya. Dia tahu benar tindakan bodoh itu hanya akan memperparah kondisinya sekarang.


“Grab food atas nama ‘Dinda jangan marah-marah, nanti kamu cepat tua’!” teriak penjual sambil menyanyi dan disahuti oleh pelanggan lain.


Saka tak sadar. Dia mendiamkan aksi itu. Tapi setelah nama itu diulang-ulang, dan tak ada yang menyahut, seorang driver langsung menyenggol Saka. Saka segera melihat nama customer-nya. Ternyata itu pesanan miliknya.


Antara marah, malu, dan mau ketawa, bercampur jadi satu. Saka segera membalas panggilan itu, membayar lantas memotret pesanan ke customer. Sebelum mengenakan jas hujan dan helm, Saka sempat melihat kontak Ziva. Sayangnya masih sama. Ziva mengacuhkannya.


Sekarang rasa lelah benar-benar menusuk seluruh tubuh Saka. Pikirannya kacau. Mungkin butiran hujan memukulnya dengan keras, berusaha membuat Saka fokus kepada jalan. Tapi hal itu tak berhasil. Bahkan banyaknya air yang menerjang helmnya pun tak Saka hiraukan. Yang ada dalam pikiran laki-laki itu hanya bagaimana caranya nanti dia membuat penjelasan kepada Ziva tanpa mengusik tentang utang miliknya. Namun untuk sekarang, dia harus realistis. Ada pesanan yang harus dia antar.


“Mas, sudah gerak belum. Keburu tidur nih orang-orang!” sebuah notifikasi masuk.


Lamunan Saka pun buyar. Dia yang sedang berada di lampu merah pun menulis balasan. Berulang kali dia typo dan membenarkannya. Ponselnya yang dibungkus plastik membuatnya sulit menuliskan pesan yang benar.


“Lebih dari lima menit, saya cancel, nih!” ancam customer.


“Maaf, Kak. Sebentar lagi. Sudah jalan,” katanya singkat.


Meski pesan teksnya begitu sopan, dalam hati, Saka tetap mencibir. Segera setelah lampu berubah hijau, dia menancap gas motornya dengan cepat. Lima menit lagi uang dua ratus ribu miliknya bakal hangus. Jika skenario itu terjadi, dia mungkin bakal mendorong motornya di tengah hujan petir akibat kehabisan bensin.


“Lama banget, sih, Mas,” keluh customer saat Saka sampai.


“Hujan, Kak. Maaf!”


“Pake nyalahin hujan segala. Hujan nggak ada KTP-nya, Mas! Kalau nggak hujan, saya juga bakal ke sana sendiri.”


Berulang kali Saka mengumpat dalam hati. Dia sangat berterima kasih pada penemu masker sehingga aksinya itu tidak ketahuan oleh customer.


“Ya sudah, nih! Kembaliannya ambil aja!” kata customer lalu menutup gerbang dan masuk ke rumahnya.


Di bawah kanopi kecil serta penerangan minim, Saka menghitung uang pemberian customer. Di dunia ini, apalagi di negara ini, dia tak percaya kepada siapa pun untuk masalah uang. Embel-embel bonus itu ada kalau orangnya ramah, bukan belagu seperti tadi.


“Dih, seribu doang dibilang bonus,” cela Saka setelah selesai menghitung.


Saka segera mengantongi uang lalu mencari pom bensin terdekat. Sebelum orderan kembali datang, dia harus mengisi ulang terlebih dahulu.


*** 

Lihat selengkapnya