DOSA YANG KITA SEBUT KELUARGA

Fasihi Ad Zemrat
Chapter #11

TEKAD

“Sebentar.” Ambar berlalu dari meja makan. Dia menuju dapur, mengambil sebuah mangkuk lantas menuangkan soto yang dia panaskan. “Makan dulu!” ujarnya setelah membawakan semangkuk soto dan sepiring nasi ke hadapan Saka.


“Punya Ibu?” tanya Saka.


“Tuh mangkuknya udah di tempat cuci piring!” Ambar menujuk rak piring kecil di atas wastafel.


Saka pun menyesap kuah soto. Andai saja pembahasan malam ini tak berat, rasa koya kuah soto berpadu dengan nasi hangat, pasti sangat nikmat. Apalagi di luar masih hujan. 


“Enak?” tanya Ambar.


Kendati suasana sedang tak mendukung, lidah tak pernah bohong. Kuah soto yang wangi dengan irisan jeruk nipis, sangat nikmat dirasa. Saat sesendok nasi dicelupkan ke kuah lalu dimakan oleh Saka, seluruh tubuhnya bergetar. Kenikmatannya sungguh tak terkira.


“Banget. Ibu beli di mana? Kayaknya aku nggak pernah deh makan soto buatan Ibu yang rasanya kayak gini,” papar Saka.


“Ziva yang buatin.”


Saka pun cengo. Gerakannya terhenti. Meski nasi sudah Saka telan, sendok masih menancap di mulutnya.


“Kamu kenapa nggak jujur saja ke Ziva?”


Saka menurunkan sendok dari mulutnya. “Gimana mau jujur, Bu? Aku takut Ziva menjauh. Sudah baik dia menerima aku yang miskin gini.”


“Hush! Kalau ngomong tuh yang baik-baik!”


“Kan nyatanya emang gitu.” Saka menyendok soto lalu memakannya lagi. Nafsu makannya memang sudah buyar, tapi perutnya tetap masih terasa lapar.


“Ka, jujur pada Ibu. Kamu suka sama Ziva, kan?”


Sekali lagi Saka berhenti makan. Dia aduk-aduk soto di depannya. “Nggak ada wanita yang mau nikahi kecuali Ziva, Bu.”

Lihat selengkapnya