DOSA YANG KITA SEBUT KELUARGA

Fasihi Ad Zemrat
Chapter #12

MERAIH BERLIAN

Saka mengembuskan napas sambil memandang walpaper ponselnya. Terpampang jelas di sana, foto dirinya dan Ziva yang sedang berada di pantai. Saka ingat sekali momen bahagia itu. Dia yang mencoba selfie tiba-tiba didorong oleh Ziva. Wajah mereka pun blur dan tampak lucu. Ziva yang mangap dan Saka yang meringis. Berulang kali Ziva meminta agar foto itu dihapus. Alih-alih dituruti, Saka malah menjadikannya walpaper sekaligus casing ponselnya.


Namun itu sudah lama. Untuk dapat liburan seperti itu, Saka harus menghemat uangnya. Alasannya saat itu, tentu untuk modal nikah. Sialnya sekarang justru uangnya terancam habis untuk membayar utang. Padahal sekarang weekend. Dia bisa mengajak Ziva jalan kalau tabungannya ada. Apalagi sekarang Ziva posisi sedang ngambek. Biasanya jika seperti ini, Ziva menunggu dijemput di rumahnya. Tapi bagaimana? Saka tak punya dana untuk mengajak Ziva pergi.


Siap-siap Gacor Hari Ini! 

Utamakan keselamatan dan raih bonusmu, Saka. 0/200 Berlian. Ambil orderan pertamamu sekarang dan dapatkan ekstra berlian di jam sibuk pagi ini! 


Senyum Saka terukir. Dia sedang senggang sekarang. Jika dia mendapat intensif ini, maka intensif ini murni uang bebas. Saka bisa saja mengajak Ziva keluar tanpa khawatir uang.


“Napas dalam, jalan lagi, jalan terus!” semangat Saka.


Lelaki itu pun segera menandaskan sarapannya lalu menarik gasnya. Dia segera menuju lokasi yang sekiranya sepi driver tapi gacor orderan. Saka tahu hal ini tidaklah mudah. Terlebih dia seringkali mematikan aplikasi pada jam kerja. Namun dia tak akan menyerah. Sekarang masih pagi, saatnya anak masih sekolah di hari Sabtu. Saka biasanya mengaktifkan aplikasinya di jam-jam ini. Pasti banyak orderan. Jika benar dugaannya, akunnya akan gacor di jam berangkat sekolah dan pulang kantor lalu akan anyep di jam kantor. Apabila itu benar, maka dia tidak boleh menonaktifkan ponselnya. Ada orderan harus dia ambil segera.



Sambil memasang headset dan memutar musik yang Saka suka, dia berkeliling di daerah yang sering dia datangi. Beruntungnya awal weekend ini, orderan tak lama datang. Saka cukup memarkirkan motornya di dekat perumahan lalu datanglah pesanan untuk mengantar sekolah.


Sialnya cobaan datang setelah 1 orderan Saka selesaikan. Jam berangkat sekolah telah usai. Hari Sabtu, hari libur orang bekerja. Orderan sepi. Baik GrabBike maupun Grabfood tak ada yang memberi notifikasi. Tampaknya dugaan Saka benar. Dia yang selalu menonaktifkan aplikasi di jam kerja, membuat akunnya anyep.


“Ayolah!” gerutu Saka sembari meremas ponselnya.


Satu jam berlalu. Tetap belum ada orderan masuk. Panasnya mentari mulai menyengat. Berulang kali Saka menyapu pandang, melihat ke area sekitar. Sepi. Hanya ada beberapa kendaraan lewat. 


Saka mengembuskan napas. Dia tak berani memainkan medsos. Instagram, Tiktok, telah dia uninstall. Bahkan Youtube pun telah dia nonaktifkan. Dia tak mau membuang-buang kuota internetnya. Satu-satunya yang dia mainkan hanyalah Spotofy. Itupun yang gratis.


“Pindah lokasi saja, lah!” putusnya.


Saka pun kembali memakai helmnya lalu menaiki motor. Dilihatnya peta di dalam aplikasi. Semuanya hijau. Semuanya tampak normal. Permintaan tampaknya terpenuhi dan tak ada lonjakan tarif. Jika seperti ini terus, maka bisa saja dia hanya menguras bensin motornya.


Jam menunjukan pukul 11 siang. Saka tetap belum menerima orderan lagi. Ada satu Grabfood yang sempat dia dapat. Sudah senang dia mendapatkannya, belum juga memakai mulai menuju lokasi, orderan dibatalkan. Sial.


“Sudah dapat berapa, Mas?” sapa seorang driver ketika Saka ikut beristirahat di bawah pohon.


“Satu, Mas,” jawab Saka jujur.

“Sama, Mas.”

Lihat selengkapnya