Semua orang mulai berlarian. Orasi tak lagi terdengar. Panasnya mentari semakin menyengat. Teriakan menerkam teriakan lain. Tak ada yang mau mengalah. Masing-masing sibuk dengan urusannya. Ada yang melawan ada juga yang sibuk menyelamatkan diri. Batu demi batu beterbangan. Asap hitam membumbung tinggi sementara asap putih justru berkeliaran di depan mata.
Saka mencoba menyelamatkan diri. Penumpang di belakangnya memeluk Saka erat. Dia memejamkan mata. Tak peduli apa pun yang ada di depan matanya. Kendati telinganya mendengar teriakan-teriakan orang, Ghina lebih memilih untuk membenamkan seluruh wajahnya di punggung Saka. Dia tak peduli dengan apa yang terjadi. Sama tak pedulinya dengan jaket Saka yang tak lagi bau wangi.
Sementara itu, Saka menarik gas kencang-kencang. Dia hindari amukan massa yang semakin liar. Lelaki itu terus menerobos kabut gas air mata. Walaupun pedas di mata, tapi tak mengapa asal pedas juga di dompet.
Akhirnya setelah melalui liku-liku medan, melewati jalan-jalan tikus, Saka sampai juga di tempat yang diinginkan penumpangnya.
“Kak … Kak Ghina …. Sudah sampai,” ujar Saka lembut sambil menyentuh tangan penumpangnya.
Ghina yang masih terus merangkul Saka erat pun mulai mengangkat wajahnya. Tangannya yang masih gemetar perlahan melepas pegangannya dari Saka. Sembari menyapu pandang, dia pun turun.
“Sudah aman, kok, Kak. Demonya sudah nggak kedengaran, kan?” kata Saka, mencoba menenangkan.
Ghina pun segera mengambil dompet, mengambil uang lalu menyerahkannya ke Saka. Belum juga Saka menghitung untuk memastikan, Ghina sudah terlebih dulu lari. Dia masuk ke rumah dan menutup pintunya kencang-kencang.
“Kak, uangnya lebih!” teriak Saka buru-buru.
Karena tak ada jawaban, Saka pun berinisiatif untuk menghubunginya via aplikasi.
“Buat, Mas saja. Anggap aja bonus karena udah nyelametin nyawa saya!” jawab Ghina.
Satu senyuman pun segera menyungging. Senyuman itu makin bersinar tatkala melihat bar berlian intensifnya makin meningkat tajam. Darahnya pun makin mendidih. Segera saja Saka simpan uang itu lantas kembali mendekati area demo. Warna merah pekat masih menghiasi area itu. Tarikan lancar meski nyawa juga terancam. Saka pikir tak apa demikian. Toh pulang dengan tangan kosong juga akan membuat nyawanya terancam. Utang akan terus selalu menghadang.
Namun kali ini, Saka mendekatkan motornya di samping gedung TVRI. Matanya pun segera menyala ketika melihat banyak kerumunan orang di sana. Segera saja dia menawarkan fitur GrabNow. Prosedur pairing kode 6 digit dilakukan dengan cepat di atas motor yang masih menyala. Taktik ini sukses besar. Selesai satu, Saka langsung balik lagi. Orang-orang pun segera membentuk antrean untuk dapat menjadi penumpang. Beberapa di antara mereka beradu argumen, tapi Saka tak peduli. Yang dilihatnya sekarang adalah setumpukan uang yang akan segera menjadi miliknya. Saka terus saja bolak-balik mengantar penumpang jarak pendek ke stasiun terdekat tanpa harus terjebak di pusat demo. Indikator di Skema Insentif-nya bergerak cepat 120/200.
Sore hari menjelang jam 4, gas air mata jadi lebih sering ditembakkan. Teriakan orang-orang makin kencang. Bunyi strebo, ambulan, dan makian tak terhindarkan. Mungkin Saka memang tak peduli hal itu. Dia cukup mahir menghindari kerumunan yang makin keos. Tapi tetap saja dia tak dapat berbohong kalau matanya perih. Angin membawa gas itu sampai ke tempat Saka mangkal.
“Kampret!” gerutunya sambil mengusap-usap mata. Bukannya membaik malah tambah parah.
Saka meraba-raba botol minumnya. Dia harap dengan siraman air, matanya segera membaik. Sialnya air minumnya telah kosong.
“Anj … Astagfirullah!” umpatnya tertahan.