DOSA YANG KITA SEBUT KELUARGA

Fasihi Ad Zemrat
Chapter #14

KEMBANG TUJUH RUPA

Hening. Benar-benar tidak ada suara. Serangga diam. Angin tak berhembus. Kendaraan tak lewat. Alam seakan kompak membisu.


Badan lemas Saka pun menegang. Bulu kuduknya berdiri. Matanya yang semula mulai menutup, kini terbuka awas. Saka menelan ludah. Kendati dia tak pernah percaya pada hantu dan lebih takut pada manusia jahat, dia tak bisa bohong. Tubuhnya merespon ada sesuatu yang aneh. Seperti saklar yang tadinya mati, kini semuanya hidup kembali. Seluruh saraf Saka lebih waspada.


Dengan bermodalkan aplikasi yang terus menyala, sinyal yang muncul dan hilang, dan baterai ponsel yang tinggal sedikit, Saka menjelajahi makam. Jalanan gang yang lengang dengan dipenuhi dedaunan kering cukup membuat Saka was-was. Sepanjang hidupnya, dia tak pernah mengalami hal sekontras ini. Tadi saat di jalanan utama, suasananya sangat ramai dan nyaman. Tapi begitu dia masuk gang, suasananya langsung berubah. Angin dingin langsung menyapanya begitu saja.


Tembok-tembok menjulang tinggi. Pagar-pagar dikerumuni oleh tanaman sulur tak terurus. Cahaya suram. Tak ada penerangan selain lampu motor Saka. Udara terasa makin mencekik membuat jantung Saka berdegup makin kencang.


“Kakak di mana?” tanya Saka di dalam chat.


“Rumah nomor 17. Cepat, Pak!” jawabnya singkat.


Saka mulai menerawang angka demi angka rumah. Pandangannya kian tajam dan pendengarannya makin peka. Seluruh inderanya dalam tahap siaga. Bahkan ketika suara kucing yang bertarung hampir saja membuat Saka membanting setir.


“Kak saya sudah di depan!” pesan Saka ketika sudah sampai.


“Jangan dimatikan mesinnya, Pak. Jangan juga lihat ke belakang!” balas customer.


Kepala Saka langsung terasa terkunci. Otot di lehernya terasa kaku. Bahkan tenggorokannya menjadi kering. Sulit sekali bagi Saka untuk menelan ludah. Kendati Saka menuruti perintah pelanggannya, tapi pojok matanya tak sengaja melihat ke spion motornya. Di sana dia melihat sesuatu di bawah bohlam lampu jauh di belakang.


Namun belum sempat Saka memastikannya, seorang wanita terlihat lari tergopoh-gopoh dari rumah mewah itu. Dia keluar dari gerbang, segera menguncinya lantas naik ke jok motor Saka.


“Buruan jalan, Pak!” ujar wanita itu.


Banyak sekali pertanyaan yang mencuat di otak Saka. Tapi dia bungkam semuanya lalu memilih untuk segera meninggalkan lokasi.


Tak ada percakapan. Keduanya sama tegang. Perlahan Saka mengarahkan salah satu spionnya ke penumpang. Dilihatnya penampilan wanita itu. Rambut dikucir, menggunakan kaos oblong, memakai rok panjang, serta menjinjing tas besar.


Jika menuruti kronologi dan tas besar itu, Saka bisa mengiranya pencuri. Tapi pencuri apa yang mengunci kembali gerbang dan berpenampilan terbuka seperti ini? Saka menggeleng. Dia membenarkan kembali spionnya. Urusan penumpangnya pencuri atau bukan, itu tugas polisi. Tugasnya hanyalah mengantar penumpang ini ke tujuannya dengan selamat. Mendapatkan bayaran, memenuhi bar berliannya, dan memperoleh bintang lima. Selesai.


Lihat selengkapnya