Alarm berbunyi. Saka malas-malasan membuka mata. Dia mengambil ponsel, mematikan alarm lalu duduk. Kepalanya langsung terasa berdenyut-denyut. Saka pun berjalan pelan ke dapur, mengambil air panas lalu menyeduh jahe instan.
Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul empat pagi. Dia kesiangan dua jam. Untungnya sekarang hari Minggu sehingga dia bisa agak siangan sedikit untuk mengirimkan tahu fantasinya. Saka ingin segera mengambil bahan-bahannya, tapi dia terlalu lemah sekarang. Akhirnya dia memilih untuk mengambil air panas lagi dan selembar kain lalu mengkompres dahinya sembari duduk.
Saka memejamkan mata. Rasa kantuk yang masih menguasainya membuatnya terpejam sejenak. Namun ketika kepalanya bergerak ke samping sampai hampir terjungkal, Saka terbangun. Tak terasa setengah jam sudah berlalu. Saka pun berdiri dan mengambil bahan-bahan. Dia terus sibuk menghancurkan tahu, mencampurnya dengan wortel dan sayuran lainnya, lalu memberikan telur puyuh di tengah. Baru setelah dia mengkukus tahu itu, dia menyadari sesuatu. Rumahnya terlalu hening.
Dengan pikiran yang mulai was-was, Saka pun bangkit dan memeriksa ibunya di kamar. Semakin kakinya mendekati kamar, Saka merasa jantungnya makin berdebar hebat. Pikiran-pikiran negatif mulai membayangi Saka. Meski belum sampai ke kamar ibunya dan melihat Ambar di sana, Saka sudah terbayang kalau Ambar terbujur kaku.
Tangan Saka bergetar begitu memegang gagang pintu kamar ibunya. Dia ingat benar kalau semenjak ayahnya meninggal, Ambar tak pernah menutup pintu kamarnya. Maka hal itu hanya berarti satu hal. Ada yang tidak beres.
Perlahan Saka membuka pintu itu. Ketika pandangannya mengarah ke bagian atas dari kasur, dia tak melihat ibunya, jantung Saka langsung berdegup kencang.
“Bu?” panggilnya dengan nada bergetar. Saka baru sadar kalau tadi malam ketika dia pulang, tidak ada Ambar yang menyambutnya.
Hening. Saka pun makin khawatir. Dia langsung membuka pintunya lebar-lebar.
“Bu?” panggilnya kencang-kencang.
Dan betapa malunya dia ketika melihat ibunya tengah salat. Saka yang merasa konyol pun langsung menutup pintu kembali dan pergi ke dapur. Wajahnya yang sudah merah karena demam pun bertambah merah. Meski tidak ada yang melihatnya, Saka menutup wajahnya.
“Hampir saja sholat Ibu batal, Ka!” ujar Ambar setengah mengejek.
Saka makin membenamkan wajahnya. “Maaf, Bu. Habisnya biasanya kan Ibu sudah bangun,” sahut Saka.
Ambar tersenyum. Wajahnya sedikit menekuk. Sebenarnya begitu Saka sudah pulang, dia belum pulang. Ambar baru pulang satu jam setelah Saka terlelap. Dia diantar Dasa.
“Emang nggak boleh kalau sesekali Ibu kesiangan?” canda Ambar.
Dia pun mendekati panci dan memeriksa kukusan tahu yang dibuat Saka.
“Pipimu kenapa merah gitu?” tanya Ambar. Dahinya berkerut.
Dia pun beralih melangkah ke Saka. “Ya Allah kamu pucat!” Ambar mulai panik.
Tak tunggu lama, dia pun mengecek suhu tubuh Saka. “Kamu demam?” tanya Ambar meski jelas dia tak membutuhkan jawaban.
“Aku nggak papa, kok, Bu!”
“Nggak papa gimana? Sudah jelas kamu sakit begini.”
“Cuma demam.”
“Nggak ada penyakit yang namanya cuma. Sekarang tidur!”
“Udah, Bu. Nggak papa. Demam ringan gini. Ntar juga sembuh.”