Suasana di rumah tak seperti biasanya. Saka hanya bisa diam. Sementara Ambar juga tak mau bicara. Mereka tetap beraktifitas seperti biasa. Namun tak satu pun kata mencuat dari mulut mereka masing-masing. Saat Saka berangkat ketika subuh berkumandang, Ambar tak menyambutnya. Semua keperluan dan perlengkapan Saka sudah terkemas rapi di ranselnya. Bahkan dua bungkus nasi pun sudah bertandang di sana.
Sebelum Saka memakai helm, dilihatnya rumah yang kini tak lagi hangat. Ambar tak lagi berdiri di depan pintu, melepas kepergian Saka. Saka pun menghela napas. Dipakainya helm miliknya lantas menghidupkan mesin dan melaju meninggalkan rumah. Dia sadar kalau perang dingin sudah berkobar di dalam rumahnya.
Kendati tahu fantasinya diterima dengan senang hati dan orderan ojek masuk, Saka tetap tak bisa mengenyahkan pikirannya dari rumah. Dia tahu kalau ibunya tak mungkin bisa menyerahkan rumah ke Dasa tanpa persetujuannya. Begitu ayah meninggal, maka rumah jatuh ke semua ahli waris. Dasa memerlukan persetujuan Ambar, Saka, dan Nabila. Walaupun demikian, Saka tetap saja khawatir. Dia takut akan kesehatan ibunya. Jika Ambar terus memikirkan beban ini, mungkin saja jantungnya makin bermasalah.
Sebuah dering telepon membangunkan Saka dari lamunan. Ketika melihat siapa yang menelepon dan itu dari Nano, Saka menolaknya. Dia sedang di tengah jalan mengantarkan penumpang. Jam masih menunjukan pukul delapan kurang seperempat. Masih sempat untuk ke kantor.
Tak lama kemudian, Nano menelepon kembali. Saka mendesis. Dia pun segera menolaknya kembali. Tujuannya hampir sampai dan waktu semakin mencekiknya. Saka harus segera menyelesaikan pesanannya, memastikan pembayarannya benar, lalu segera menuju kantor. Tak ada waktunya untuk bercandaan garing dengan Nano.
“Uangnya pas, ya, Kak. Terima kasih,” ujar Saka setelah menghitung uang pemberian penumpang.
Si penumpang mengangguk sopan lantas pergi. Seseorang menyambutnya lantas mereka melangkah pergi bersama.
Begitu pesanan berakhir, Saka langsung menyimpan ponselnya lantas mengebut ke kantor. Untungnya dia hafal mati daerah-daerah di sekitarnya sekarang. Dia tinggal mengambil jalan tikus, masuk ke gang, menghindari kemacetan, mengambil alih jalan trotoar - meski melanggar lalu lintas, sampai akhirnya dia pun sampai kator.
Pukul delapan kurang satu menit. Saka segera memindai lanyardnya lantas masuk lift yang hampir saja menutup. Begitu dia menekan tombol yang dia tuju, Saka pun dapat mengembuskan napas lega. Dia pun meraba kembali ponselnya.
Saka sadar sedari tadi di jalan, ponselnya tak pernah berhenti bergetar. Dia pikir itu panggilan dari Nano. Namun keringatnya pun berkucur deras kala ada lima panggilan dari Pak Broto. Tanpa pikir panjang lagi, Saka langsung menelepon Nano, meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sial. Nano tak menjawab.
Ketika Saka keluar dari lift, dia terus mencoba menghubungi Nano. Meski tak respon, Saka tak pernah berhenti mencoba mencari tahu. Kemudian kala Saka sampai di lantai kerjanya, semua orang pun sudah berkumpul di kubikelnya. Pak Broto dengan wajah masamnya, para tallyman yang kebingungan, serta Nano yang sibuk membolak-balikkan berkas.
“Saka!” bentak Pak Broto.