“Rileks aja, Ka! Gue bantu cari. Kalau barangnya ketemu, gaji lo juga nggak bakal kepotong,” tukas Nano, mencoba menyemangati.
“Thanks, Nan,” balas Saka tak bersemangat. Dia tahu kemungkinan itu sangat kecil. Perlu jam ekstra jika mencarinya. Itu pun belum tentu ketemu.
Melihat temannya yang masih murung, membuat Nano ingin mengatakan sesuatu lagi. Tapi dia kehabisan kata-kata. Jam juga sudah menunjukan pukul tujuh belas lebih. Gudang sudah mulai sepi. Nano juga ada acara. Hanya saja rasanya berat sekali meninggalkan temannya yang sedang dirundung masalah.
“Gue nggak papa, kok. Lo duluan aja!” anjur Saka. Dia tak tahan melihat Nano yang berulang kali melihat jam dan menggerak-gerakkan kakinya.
Nano melipat mulutnya. Dia ragu.
“Udah! Pulang sana! Gerakan lo jadi kayak anjing birahi, tengok sana-sini terus.” Saka tertawa.
“Sialan!” Nano ikut tertawa.
Namun tawa mereka begitu canggung. Tak perlu menunggu lama, tawa itu pun menghilang ditelan keheningan.
“Beneran lo nggak papa?”
“Sejak kapan lo peduli sama gue kalau ada lembur?” gurau Saka.
“Serius dikit napa,” protes Nano.
“Iya. Gue nggak papa. Ini kesalahan gue. Jadi gue yang harus tanggung jawab. Udah sana pulang!”
Nano mengembuskan napas. Diambilnya jaket di belakang kursinya lalu menggendong tasnya.
“Kalau gue nggak ada acara keluarga, gue pasti bantuin!” Nano menepuk pundak Saka.