Setelah menunggu hampir semalaman, akhirnya Nabila luluh. Dia pun membukakan pintu.
“Maaf, Kak!” kata Nabila sambil sesenggukan.
Mulut Saka terbuka. Dia pun mendekati adiknya lantas memeluknya. Tangisan Nabila pun seketika bertambah kencang. Tangannya mencengkram baju kakaknya, seakan tak pernah mau ditinggal lagi.
Selang beberapa menit, Nabila pun tenang. Saka memintanya untuk berkemas.
“Ikut Kakak pulang, ya!” ajak Saka.
Nabila menggeleng. Wajahnya melengos. Dia terlalu malu, terlebih dengan bagaimana dia bersikap dulu. Nabila masih sangat ingat betapa angkuhnya dia untuk meminta pernikahan mewah padahal dia tahu sendiri keluarganya tak mampu.
“Demi anakmu.” Saka tak menyerah. Tangannya menyentuh kepala anak Nabila.
Nabila mulai bimbang. Pandangannya jatuh pada anaknya yang masih menangis.
“Pulang, ya!” ulang Saka lembut. Dia tak mungkin membiarkan adiknya terlantar apalagi dalam kondisi mengenaskan seperti ini.
Nabila mengulum bibirnya. Ditatapnya indekos yang dia huni selama ini. Hanya satu ruang. Sepi, sumpek, bahkan sangat berantakan. Semua barang yang bisa dia jual, telah laku. Yang tersisa dari Nabila hanya tubuhnya sendiri. Cukup lama Nabila berpikir sampai kenyataan mengalahkan egonya. Dia pun mengangguk.
Saka mengembuskan napas. Buru-buru dia membantu Nabila mengemasi barang sebelum adiknya itu berubah pikiran. Begitu yakin semua terkemas dan tak ada yang tertinggal, mereka pun keluar.
Tak ada pembicaraan di jalan. Saka tak tahu apa yang dipikirkan adiknya, Yang dia lihat dari spion, Nabila hanya sibuk memastikan anaknya tak kedinginan. Hari masih gelap. Udara makin dingin. Alasan kenapa Saka tak menunggu besok, dia khawatir Nabila berbuat nekad. Andai dia tadi tak sabar dan memilih pulang, mungkin saja keesokan harinya Nabila sudah tak ada di sana.
Begitu sampai rumah, Ambar menyambut mereka. Waktu melihat Nabila bersama Saka, wajah Ambar tampak kaget. Namun alih-alih bertanya, dia justru langsung memeluk Nabila dan membawanya masuk rumah. Tak ada pembicaraan, hanya pelukan hangat seorang ibu. Nabila pun tak kuasa menahan tangisnya. Dia dekap ibunya dengan erat sambil berulang kali meminta maaf.
Kendati Saka lega melihat Nabila mau pulang, akan tetapi di otaknya terjadi peperangan dahsyat. Biaya hidup keluarganya akan bertambah berkali-kali lipat. Dengan hadirnya bayi di antara mereka, tamatlah sudah perhitungan ekonominya. Semuanya sudah tamat.