“Jadi ini akhirnya? Setelah kamu dengan mudahnya bilang semuanya baik-baik saja? Kamu mau kita putus?” tanyanya dengan nada bergetar.
“Nggak gitu, aku cuma ….” Saka tak mampu melanjutkan kalimatnya.
Ziva menyalak. Matanya tajam menusuk. Emosinya tumpah. “Apa? Cuma apa? Cuma nganggap aku cuma mainan? Setiap hari lho Ka kita ketemu. Setiap hari kita tatap mata. Tapi dengan mudahnya kamu bohongi aku? Udah gitu endingnya apa? Kamu minta putus? Gila kamu, ya! Kamu punya simpanan, kan?”
“Apa? Nggak mungkin aku punya wanita lain selain kamu.”
“Terus kenapa? Kenapa kamu akhir-akhir ini aneh. Nggak bisa dihubungi. Selalu lesu kalau ketemu. Bahkan nggak pernah ngangkat kalau aku telepon. Kamu bahkan nggak pernah mau cerita soal ojol itu. Selalu menghindar kalau ditanya. Selalu menyangkal kalau ditebak. Kalau bukan karena bosan sama aku apa?”
“Aku miskin, Ziv!” tandas Saka. Hancur sudah semua pertahanan mentalnya.
Ziva seketika diam.
“Keluargku punya utang 200 juta. Setiap bulan aku diburu-buru buat bayar utang. Telat sedikit atau uangnya kurang, rumah kami bakal disita! Tabunganku habis. Terus sekarang apa? Aku kena SP2, bulan ini gajiku dipotong. Kamu mau sama pemuda miskin kayak aku, hah?” Nada bicara Saka menurun di akhir kalimat. Matanya merah. Dia menatap Ziva lekat-lekat.
Diberondong dengan fakta seperti itu, Ziva tak tahu harus menjawab apa. Dia tiba-tiba gagu. Tak satu pun kalimat dapat muncul di otaknya.
Saka berganti memandang ke jalan. Dia melihat orang-orang yang berlalu lalang. Mereka terlihat amat damai, tidak seperti dirinya sekarang.
“Nabila aku bawa pulang. Aku menemukannya di sebuah kos kecil kumuh bersama anaknya. Sekarang, selain untuk menghidupi diriku dan ibu, aku juga harus mencari nafkah buat Nabila sama bayinya.”
Ziva menjulurkan tangannya. Dia menyentuh tangan Saka, mencoba menenangkan. Pandangan Saka pun beralih ke genggaman tangan Ziva.
“Aku ….”
“Jangan sama aku, Ziv!” potong Saka. Dia pun menurunkan tangan Ziva kembali ke pangkuan wanita itu.
“Kalau sama aku, kamu nggak bakal punya masa depan. Aku sudah nggak bisa membayar utang. Rumah kami mungkin akan disita. Kamu mau tinggal di mana sama aku?”
Ziva kembali tak mampu menjawab. Dia tahu hatinya sakit, tapi logikanya menolak untuk memberi harapan ke Saka. Dia tak mampu untuk membohongi diri sendiri.
“Untuk makan saja aku begitu irit. Dengan kedatangan Nabila dan bayinya, mungkin aku akan semakin kekurangan. Aku nggak akan bisa nabung. Aku nggak akan bisa melamarmu.”
Saka menghela napas. Disekanya air mata dari pipinya lantas tertawa canggung.
“Ternyata lelaki miskin kayak aku, emang harus sadar diri, ya! Sebesar apa pun aku berusaha, nggak mungkin akan kecapai.” Saka menatap Ziva lekat-lekat. “Terima kasih, ya! Terima kasih buat semua kenangan yang kamu bagi sama aku. Kamu berhak mendapat yang lebih baik dari aku, Ziv,” pungkasnya kemudian.
Saka berdiri lalu membayar dua wedang ronde. Setelah itu, dia pun melangkah pergi, meninggalkan Ziva dari semua pikirannya.