“Gimana keadaannya, Bil?” tanya Ambar sambil membawakan makanan. Matanya menatap ke arah cucunya yang telah terlelap.
“Demamnya sudah turun, Bu,” jawab Nabila ragu-ragu.
“Sini Ibu periksa. Kamu makan dulu, gih!”
Nabila pun mengangguk. Dia menerima sepiring nasi dengan sayur bening bercampur daun katuk.
“Biar ASI-mu lancar,” jelas Ambar tanpa diminta.
Ambar pun mengecek keadaan cucunya. Dia mengganti irisan bawang merah yang dicampur dengan minyak telon di dahi Adi. Setelah meraba dada dan mengecek suhu badan, Ambar pun tersenyum. Benar suhu tubuh cucunya sudah turun. Ambar pun tersenyum. Dia lantas berbalik, menghadap Nabila. Betapa kagetnya dia justru mendapati anaknya yang menangis sesenggukan.
“Bila? Kenapa?” tanya Ambar lembur. Tangannya membersihkan sisa nasi di bibir anaknya.
Alih-alih menjawab, tangis Nabila justru makin deras. Ambar pun segera mengambil piring dari tangan Nabila lalu menaruhnya di meja. Setelah itu, dia pun mendekap putrinya. Dengan lembut, dia usap kepala Nabila.
“Maaf ya, Bu.”
Ambar tak kuat untuk menjawab. Bibirnya mulai bergetar. Tangis yang dia tahan sedari dua hari yang lalu, kini terurai sudah.
“Aku cuma jadi beban. Aku cuma jadi biang masalah buat keluarga ini.”
Ambar menggeleng. Dia lepas pelukannya lantas mengenggam tangan Nabila.
“Nggak pernah, sayang. Nggak pernah sekali pun kamu jadi beban buat keluarga ini,” katanya kemudian.