Sebelum sampai di rumah, Saka sempat berhenti. Di tepi jalan, dia lepaskan helm lalu membuka tutup air mineralnya. Bukan untuk diminum, melainkan untuk membasuh wajahnya. Dia tak ingin kelihatan kalah, apalagi sekarang sudah masuk malam ini, Dasa menagih untuk bulan kedua.
Baru saja Saka sampai dan belum sempat dia mengucap salam, seseorang sudah menyambutnya.
“Lho, kok penampilanmu tambah kucel gini? Yakin nggak mau lepasin rumahnya aja?” ejek Dasa sambil duduk jegang di sofa rumah Saka.
Saka malas-malasan menanggapi. “Tunggu di sini!” katanya kemudian.
Saka pun melangkah masuk ke rumah. Dia hendak masuk kamar sebelum akhirnya suara tangisan bayi terdengar. Nabila pun keluar sambil menimang bayinya.
“Wah, Bu Ambar kok nggak bilang-bilang sudah punya cucu? Bayi butuhnya banyak lho,” papar Dasa.
Saka mendesis. Genggaman tangannya menguat. Dia pun segera masuk kamar lalu membuka kotak yang dia simpan di dalam rumahnya. Di kotak kayu yang bertuliskan ‘Masa Depanku Ziva’ tinggal tersisa satu kotak beludru merah. Saka pikir, dia akan langsung keluar, tapi begitu tangannya mengeluarkan kotak merah kecil itu, hati Saka berguncang hebat.
Dulu Saka pikir, dia akan sanggup memenuhi kotak masa depannya dengan uang lagi. Namun dia salah. Ini baru dua bulan sejak dia mulai mengambil alih cicilan, tapi dia sudah seberantakan sekarang.
Sekarang, dia sudah kehilangan Ziva. Buat apa Saka menyimpan semua ini. Kotak masa depan, cincin yang akan dia hadiahkan, semuanya tak ada gunanya lagi. Terlebih uang yang dia kumpulkan kurang sekarang. Gaji tadi baru saja turun dan benar apa kata Pak Broto, gajinya dipangkas empat juta. Maka hanya cincin ini penyelamatnya sekarang.
“Ya Allah …,” rintih Saka sembari menggenggam erat-erat kotak beludru itu.
“Lama amat, sih? Punya uangnya nggak nih?” cetus Dasa dari ruang tamu.
Saka menggigit bibirnya. Dia ingin rasa sakit menggantikan rintihannya. Sejenak dia seka air matanya lalu melangkah keluar.
Saka menyerahkan uang dan selembar kertas ke Dasa. “Ini uangnya!” ujar Saka tanpa basa-basi. Dia menunjuk selembar kertas yang dia bawa serta keluar.
“Kamu mau nipu saya, hah? Jelas-jelas ini cuma empat juta!” protes Dasa sembari membanting uang ke meja.
“Saya mau sisanya, Bapak ambil dari cincin ini!” ujar Saka dingin.
Dasa tertawa terbahak-bahak. “Cincin? Woy! Kamu pikir aku ini tukang gadai perrhiasan, hah? Cincin murahan gini mau kamu pakai buat bayar utang?”
“Tahun kemarin harganya sudah empat juta. Saya yakin sekarang harganya jauh lebih mahal,” banding Saka dengan wajah sedatar yang bisa dia buat.