Pintu depan baru saja dikunci rapat oleh Ambar. Suara deru motor Dasa perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang mencekam di ruang tamu. Udara di dalam rumah terasa berat, dipenuhi sisa-sisa intimidasi yang tertinggal.
Saka mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Tubuhnya terasa begitu ringkih, seolah seluruh tenaga dan semangat hidupnya baru saja disedot habis. Dia memutar badan, berniat melangkah ke kamar, hendak membanting diri ke atas kasur dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Kenapa Ibu lakuin itu? Kenapa Ibu bayar kekurangannya?” todong Saka tanpa basa-basi.
“Ibu cuma mau bantu,” jawab Ambar pelan.
“Bu! Ini tanggung jawabku! Ibu cukup jaga diri dan nggak usah ikut campur!” bisik Saka dengan suara tertahan namun tajam, menjaga agar tak membangunkan bayi Nabila. “Kemarin Ibu mau jual rumah, sekarang Ibu justru nambahin uangku. Sebenarnya Ibu ingin aku gimana?”
“Ibu ingin kamu berhenti!” balas Ambar, suaranya naik satu oktav.
Langkah Saka terhenti. Napasnya memburu, dadanya naik turun saat matanya menatap Ambar lurus-lurus.
“Kenapa kamu berbuat sampai sejauh ini, hah? Kenapa kamu bahkan nekat mau ngasih cincin ini ke Dasa? Bukannya cincin ini yang mau kamu kasih ke Ziva?” Ambar mengangkat kotak beludru merah di tangannya.
Saka memalingkan wajah. “Kami sudah putus.”
Ambar membeku. Tangannya yang memegang kotak perhiasan itu gemetar. Dia menatap anak sulungnya dengan tatapan tak percaya.
“Saka! Tatap Ibu!” seru Ambar.
Saka mengulum bibir. Dia mengusap matanya yang mulai basah sebelum akhirnya terpaksa berbalik menatap sang ibu.
Ambar mendekat. “Jawab jujur! Kenapa kamu siksa diri kamu sendiri kayak gini?”
“Buat nebus dosaku!” raung Saka lirih, suaranya pecah. “Ibu lupa siapa yang buat keluarga ini hancur? Aku, Bu! Aku!”
Saka mencengkeram dadanya sendiri. “Gara-gara aku balapan liar dulu, Ayah kehabisan uang buat nyelamatin aku. Ayah bangkrut, kerja mati-matian tanpa istirahat, sampai akhirnya kena serangan jantung dan meninggal! Semua penderitaan kita itu gara-gara aku!”