Ketika azan subuh berkumandang, Saka terbangun dengan kepala berat dan mata yang terasa sangat sepet. Sisa-sisa tangisan dan luapan emosi semalam masih berbekas jelas. Tenggorokannya kering, dadanya agak sesak, dan wajahnya terasa kaku. Tapi begitu kesadarannya terkumpul penuh, Saka langsung meloncat dari kasur.
Saka mendadak cemas. Dia belum membuat tahu fantasi, belum juga bersiap untuk narik ojek. Sialnya jika dia membuat tahu fantasi sekarang, dia tidak akan sempat narik ojek sebelum ke kantor. Tapi kalau tidak narik ojek, pemasukannya berkurang. Nahasnya lagi, kalau dia nekat memaksakan keduanya, dia pasti akan terlambat masuk kantor, padahal statusnya terkena SP2. Tidak ada pilihan yang bagus. Semua berisiko.
Dengan pikiran kalut, Saka terburu-buru membuka pintu kamar lantas menuju dapur. Ketika dia mendengar gemericik minyak panas, langkahnya terhenti. Bau harum adonan telur dan bumbu menguar memenuhi udara pagi. Saka tertegun.
Di depan kompor, Nabila sedang berdiri menimang piring, sibuk membolak-balik tahu fantasi yang warnanya sudah kuning keemasan. Di meja, beberapa kotak plastik pipih yang biasa digunakan untuk tempat donat, sudah tertata rapi. Mata Nabila masih kelihatan sedikit sembab, tapi ada senyum tipis di wajahnya begitu menoleh.
“Eh, pagi, Kak!” sapa Nabila seraya mengangkat tahu fantasi dari wajan.
Dada Saka mendadak hangat. Rasa panik dan kalut yang melilit kepalanya sejak bangun tidur menguap begitu saja. Dia melangkah mendekat, lalu dengan sembrono mengambil satu tahu fantasi yang masih berada di saringan minyak.
“Ih Kakak! Masih panas!” imbau Nabila kaget.
Saka menyeringai. Dia tetap memegang tahu itu, meniupnya beberapa kali sebelum nekat menggigitnya. Tak butuh waktu lama, mulutnya langsung kembang-kempis menahan panas.
Buru-buru Nabila mengambilkan piring, merebut tahu yang dimakan Saka, lalu meletakkannya di atas piring.
“Kakak kenapa, sih? Kayak nggak pernah makan aja!”
“Koakoak koan mou muastiin ….”
“Bilang apa, sih?” Nabila tertawa geli melihat Saka yang berusaha menjawab tetapi mulutnya terus terbuka karena kepanasan.
Baru ketika Saka berhasil menelannya, dia mendesah lega. “Kakak kan mau mastiin rasa tahunya sama kayak buatanku apa nggak?”
“Dih, enakan punyaku kali!” klaim Nabila percaya diri.
“Iya sih, emang,” aku Saka jujur.
“Wuh, gitu dong!” ejek Nabila bangga.
Kepala Ambar menyembul dari kamar sambil merapikan mukena dan sajadahnya.
“Kakak, masa bangun-bangun langsung nyomot dagangan. Salat dulu, gih! Habis itu sarapan. Ibu buat spesial, lho!”
“Spesial?” Wajah Saka mengkerut curiga.
Menyadari raut wajah Saka, Ambar buru-buru mengoreksi perkataannya sambil tersenyum. “Nggak mahal, kok!”