“Buat lo!” ujar Saka sambil menyerahkan satu kotak tahu fantasi ke Nano.
Nano yang sedang bersiap untuk kerja pun menatap Saka heran. Matanya terus mengikuti mulai dari meletakkan kotak makan itu di hadapannya, sampai dia duduk.
“Lo kalau natap gue gitu, gue merinding nih lama-lama. Lo masih normal, kan?”
“Bangke!”
“Eh buru makan tuh, mumpung masih anget!” komen Saka ketika melihat Nano yang justru mulai sibuk mengatur surat jalan dan membuatkan resi.
“Ogah!”
“Iya-iya, gue minta maaf,” ujar Saka.
“Dalam rangka?”
“Harus banget nih gue jelasin?”
“Harus dong. Biar kalau lo bego lagi, gue punya buktinya.”
Saka menarik napas lalu mengembuskannya. “Iya-iya. Gue kemarin bego. Ngerasa bisa sendiri. Egois. Nganggap semua orang nggak bisa bantuin gue.”
Bukannya menyimak, tatapan Nano justru menghadap layar komputer. Parahnya lagi dia Nano justru terkekeh. Saka pun mengerutkan dahi. Dia memperhatikan apa yang Nano perbuat hingga teman kerjanya itu justru cekikan. Ketika pandangan Saka jatuh ke bawah, dia melihat sesuatu yang aneh.
“Kampret. Lo ngrekam gue?”
Tawa Nano pun pecah. Dia segera mengamankan ponselnya.
“Hapus nggak?” Saka mencoba merebut ponsel Nano.
Nano menghalau terjangan Saka. Sebisa mungkin dia melindungi ponselnya dari amukan Saka.
“Eh enak aja. Udah gue bilang ini buat bukti kalau lo nggak bakal bego lagi.”
“Eh gila. Nggak-nggak, hapus nggak?” Saka tak menyerah.
“Pak Broto! Pak Broto!” teriak Nano memperingatkan. Buru-buru Saka menarik diri, langsung menghidupkan komputer, dan membaca tally sheet yang sudah ada di mejanya.
Namun tunggu punya tunggu, Pak Broto tidak kunjung kelihatan.
“Kambing! Lo nipu gue?”
Nano tertawa. Dia tak lagi mengamankan ponselnya. Sekarang, dia tengah membuka sekotak tahu fantasi dan menikmatinya.
“Nah, ini baru Saka yang gue kenal!”
Saka pun tertawa. Dia tak lagi menyoal tentang video pengakuannya tadi. Toh, Saka memang mengakui itu.
“Jadi lo kenapa nyogok gue pake ginian?” tanya Nano kemudian.
“Najis banget pake nyogok segala,” jawab Saka.
“Oh gitu …. Ya udah.”
“Ya ya ya!” ujar Saka gugup. Dia pun menarik kursi Nano agar dia mendekat.
Nano masih dalam posisi duduknya yang acuh. Tangannya masih mengambil tahu fantasi Saka satu per satu.
“Please … bantu gue ngelacak barang yang hilang itu, ya!”
“Sembah gue dulu!”
“Oh ngelunjak, ya!”
Nano tertawa.
***
Lampu neon di langit-langit gudang logistik Pak Broto berdegung konstan, memancarkan cahaya putih dingin yang menusuk mata. Jam dinding bulat di atas kubikel admin menunjukkan pukul delapan malam. Jam kerja resmi sudah berakhir tiga jam lalu yang artinya, tiap detik yang dihabiskan Saka dan Nano di depan layar monitor malam ini gratisan tanpa upah
“Ini, Ka! Dapet!” bisik Nano tiba-tiba, suaranya parau karena seharian menahan lelah. Meski tadi sore Saka sudah mentraktirnya dengan sepiring nasi padang. Saka sendiri, tentu memilih untuk makan sisa bekalnya. Dia hanya membeli sayurnya saja.
Nano memutar layar monitornya ke arah Saka. “Surat Jalan nomor 084 dari sistem outbound Sabtu kemarin. Barang lima koli itu emang keliru terangkut! Ikut muatan regu akhir pekan!”