DOSA YANG KITA SEBUT KELUARGA

Fasihi Ad Zemrat
Chapter #25

SATU TAHUN

“Ka, boleh ngomong sebentar,” sapa Ziva setelah jam pulang kantor tiba.


Saka tersenyum. Dia tahu hal ini akan terjadi. Saka lantas mengangguk dan mengikuti Ziva dari belakang.


“Aku tak mau ada yang ditutup-tutupi lagi!” pinta Ziva sambil memandang ke depan, menikmati suasana senja berpemandangan truk-truk pembawa barang di bawah. Mereka tengah di balkon kantor.


Saka mengangguk, tapi dia ragu memulai dari mana. Otaknya masih mencerna bagaimana tak menyakiti wanita yang sangat dicintainya itu. Jujur dari hati terdalamnya, dia ingin sekali menarik apa yang dikatakannya dulu pada Ziva. Saka ingin sekali tetap menjalin hubungan dengan Ziva.


“Hubungan ini, kita mulai bareng. Jadi kalau pun harus berakhir, juga harus diakhiri sama aku juga.” sambung Ziva.


Air muka Saka bertambah cemas. Dia menatap Ziva yang sedari tadi membuang muka ke depan. Setelah beberapa kali berdesis dan mengulum bibir untuk mengurai keraguannya, Saka pun menjajari Ziva. Dia menyandarkan tubuhnya ke pembatas balkon dan menyedekapkan tangannya di atas pembatas itu.


“Akulah penyebab Ayahku meninggal, Ziv. Dulu aku pernah balap liar demi agar nggak dipanggil bencong. Ayahku jadi bangkrut karena modalnya habis untuk biaya operasiku. Akibatnya Ayah jadi sering kerja tanpa kenal waktu. Akhirnya beliau pun sakit dan meninggal.”


Saka menjeda kalimatnya, memberikan waktu bagi Ziva untuk memahami pokok permasalahan keluarganya.


“Nabila yang kehilangan sosok ayah pun jadi ingin menikah muda dengan pacarnya. Dia ingin menikah mewah sehingga tanpa sepengetahuanku, Ibu berutang ke rentenir.” Saka menghela napas sejenak. “Kamu mungkin berpikir, Nabila yang nikah, kok aku yang repot? Seperti yang aku ceritakan tadi, semua akar masalahnya karena aku menuruti gengsi masa remaja. Coba aja kalau nggak, ayah masih hidup dan mungkin emosi Nabila bisa lebih stabil.”


“Terus dia sekarang di rumah?” tanya Ziva, teringat tentang perkataan Saka dahulu.


Saka mengangguk. “Karena nikahnya kurang persiapan, suami Nabila terlilit utang dan jadi korban perdagangan orang demi melunasi utangnya. Dia sampai sekarang hilang. Nabila bahkan punya bayi sekarang. Kamu tahu, bayinya lucu banget.”


Saka memberi jeda lagi. Dia mengembuskan napas berat. “Yah tapi namanya juga bayi. Dia pasti butuh biaya besar. Jadi aku pun harus bekerja tambah ekstra. Kamu masih ingat dengan jaket ojol yang kamu lihat di kursiku?”


“Masih.”


“Aku tuh sebelumnya ingin menyembunyikan kalau aku punya utang. Kupikir dengan kerja keras siang di pabrik, malam narik ojol, dan paginya jualan tahu, dapat melunasi utang dan mengembalikan tabunganku, Ziv. Tapi aku salah. Aku salah karena berpikir bisa menanggung semuanya sendirian. Aku salah karena berpikir semua ini hanya bebanku dan yang lainnya hanya tinggal menunggu. Dan akhirnya aku pun benar-benar kalah saat Nabila dan bayinya pulang. Apalagi sampai kena SP2 dan gajinya hampir dipotong kemarin, kan?”


Ziva mengangguk. “Terus, kamu ngaku kalau kamu nggak bisa sendiri?”


Saka mengangguk. “Iya. Ibu dan Nabila marah besar ketika aku tahu aku mengorbankan masa depan kita demi membayar kesalahan masa laluku. Saking bodohnya aku menganggap aku anak sulung laki-laki yang bertanggung jawab, aku sampai berpikir Ibu dan Nabila tak perlu menderita. Satu-satunya yang perlu menderita ya cuma aku. Kan aku yang salah. Tapi ternyata mereka juga menderita kalau aku menderita. Aku sampai lupa hal yang terpenting, Ziv. Aku lupa kalau aku punya keluarga. Aku juga lupa kalau punya teman sehebat Nano. Aku juga lupa kalau punya kamu.”


Saka menghentikan kalimat, menegakkan posisi berdirinya, lalu menatap Ziva dengan sungguh-sungguh. Ziva pun menatapnya balik.


“Maaf, ya!” pungkas Saka.

Lihat selengkapnya