DRU: Rasa Menuju Pulang

Titis nariyah
Chapter #7

CROSS SOULMATE


Kurang dari pukul tujuh malam, Kenan sudah berada di Dapur Dru. Dia sudah dipersilakan masuk oleh Nadia. Sementara Dru, setelah mengenakan sepatunya dan tahu yang jemput sudah tiba, buru-buru turun. Kenan yang duduk dan mendengar langkah buru-buru dari tangga langsung menoleh dan memasang wajah masam.

“Maaf, Mas telat … dua menit,” yang dikhawatirkan muncul dengan muka cengengesan, tapi cantik. Dru mengenakan midi skirt warna olive gelap yang dipadu kaos grafis warna putih polos. Untuk sepatu, Dru mengenakan boots oxford dari brand terkenal. Meski dandanan Dru simpel tapi sangat pas dan cocok dengan potongan rambut Dru serta warna kulitnya.

Kerut cemas di wajah Kenan pudar perlahan. Dru agaknya tahu Kenan masih mengingat kejadian malam saat kaki Dru terkilir. “Yok, sekarang saja!” Dru mengangguk dan keduanya pamit ke Nadia.

 

***

 Dalam perjalanan menuju Nasi Goreng Kebun Jeruk sesuai janji Dru, Kenan tampak tenang dan cekatan. Kenan memang selalu lebih terlihat tenang daripada kedua saudaranya. Tipikal anak tengah yang sangat sulit ditebak. Yang pasti Dru tahu, Kenan bukan orang yaang mudah terbuka dengan orang lain sekalipun Alya, adiknya. Bagi Alya, Kenan seperti gunung es terkadang. Tapi, dia bisa sangat hangat dan reaktif terlebih jika ada orang terdekatnya tersakiti.

Dahulu saat masih kuliah, Kenan yang menjadi kakak tingkat Dru dan Alya terkenal di kalangan mahasiswi karena kesan misterius dan wajahnya yang tampan. Dru juga dulu turut merasa sangat bangga karena bisa sering bersama dengan Kenan dan sering nebeng pulang. Beberapa kali Dru harus rela hati menjadi ‘mak comblang’ bagi teman fakultasnya yang ingin menitip salam kepada Kenan. Tanggapana Kenan? ‘No thank’. Sudah. Tidak akan ada keberlanjutan apa-apa. Ada satu kali kenan akhirnya menjalin kasih dengan mahasiswi dari fakultas kedokteran. Namanya Fara. Untuk pasangan Kenan-Fara ini, tidak ada orang yang tidak setuju bahwa mereka berdua memang sempurna. Dua-duanya memiliki latar belakang dari keluarga terpandang. Kenan pandai, begitu pun Fara. Fara tidak perlu diragukan kecantikannya. Bahkan Dru yang sesama perempuan juga sangat mengakui ini. Alya dan Dru jelas kenal Fara. Namun, kabar keduanya putus di akhir semester menutup cerita romansa dari seorang Kenan Darmawangsa. Hingga sekarang, baik Dru maupun Alya tidak pernah mendapati Kenan menjalin hubungna spesial dengan perempuan manapun. Entah memang tidak ada, atau mereka tidak tahu?

“Kalau seandainya ambil S2 di Ivy league, mending aku pilih ke mana, ya, Dru?” Kenan tanpa ada angin tanpa ada puting beliung tiba-tiba bahas S2 dan Ivy League. Lampu merah di depan mereka masih sekitar 15 detik lagi dan jalanan sungguh padat merayap.

Dru yang dari tadi asik mendengarkan lagu dari playlist di mobil Kenan spontan menoleh si anak tengah yang tatapannya tetap lurus memantau lampu merah berganti kuning, lalu hijau. “Loh, kok Alya enggak ngobrol apa-apa tentang Mas Ken yang mau S2?”

Laki-laki di sampingnya malah tersenyum, melihat sekilas wajah Dru yang masih bereaksi terkejut, kemudian beralih lagi ke arah lampu lalu-lintas. “Ya, kan aku bilang seandainya, bisa iya, bisa enggak.” Dru mengangguk setuju. Ya juga, pikirnya. Tapi Dru merasa aneh karena Kenan tidak biasa-biasanya mengambil keputusan impulsif, atau memang itu sudah direncanakan sejak jauh hari secara diam-diam?

“Mau linier di bisnis?” Kenan hanya mengangguk dan mulai mengatur persnelingnya, lampu sudah hijau. “Ya, kalau yang prestisius jelas Harvard lah, ya. Tapi siapa tahu Mas Ken mau ke Philadelphia?”

“Kota itu lebih cocok buat kamu, sih, Dru. Bangunan-bangunan abad 17-18. kota yang filosofis, dan akan ada city of murals. Ya, situ juga bisa kalau ke UPenn.”

“Hah? Kok aku? Kan ini Mas Ken yang sedang berencana ke mana tahu.”

Lihat selengkapnya