Mobil milik Kenan Darmawangsa memasuki pelataran tepat tengah malam. Satpam yang bertugas jaga malam itu dengan sigap membukakan pintu gerbang dan menyapa tuan mudanya. Seno adalah salah satu dari empat satpam di rumahnya. Sudah lebih dari sepuluh tahun ia bekerja untuk keluarga Darmawangsa. Bahkan, bisa dikatakan, Seno adalah saksi hidup melihat anak-anak dari pasangan Darmawangsa itu tumbuh.
Setelah memakirkan mobilnya di garasi, Kenan tidak langsung beranjak. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi, namun, kecamuk di hatinya lain hal. Siapa yang Dru pikirkan saat dirinya membicarakan cross soulmate? Apa Dru sedang menyesali sesuatu soal hubungan dengan orang tersebut? Orang yang gagal dia pertahankan? Rejas?
Tanpa sadar, Kenan memukul kemudinya dengan tangan mengepal. Ada risau yang melahirkan amarah. Kenan kemudian memijat pelipisnya sendiri. Seperti ingin mengurai pikiran kusut saat itu juga.
***
Rumah jelas sudah lengang. Baik Antoni mupun Alya pasti sudah tidur. Kenan merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga yang sudah gelap gulita. Dia belum mengantuk sama sekali. Kenan semakin gusar karena ingin tahu apakah Rejas kembali mengusik hidup Dru? Dia menimang-nimang ponselnya hendak menghubunngi Dru. Namun, mengingat waktu sudah sangat larut, tentu tidak sopan.
“Loh, Kak—” Kenan yang pikirannya sedang mengawang, sedikit terkejut karena ada Alya berdiri tak jauh dari sana. Alya kemudian menyalakan lampu, dan terpampang wajah kusut Kenan, “ngelindur apa gimana? Kok tidur di sofa?”
Terdengar helaan napas berat Kenan yang membuat Alya mendekat dan mengecek dahi Kenan. Siapa tahu kakak tengahnya itu demam. “I’m okay, Al.” Kenan menepis telapak tangan Alya pelan-pelan, kemudian dia bangkit dan duduk. Alya menyodorkan minuman dingin yang baru saja diambilnya. Tadinya, minuman itu diambil untuk dirinya sendiri. Tapi, setelah melihat wajah kakaknya, dia yakin bahwa Kenan lebih butuh air itu daripada Alya.
Alya mengambil tempat persis di sebelah Kenan. Mengamati wajahnya yang tak biasa, sambil menunggu Kenan membuka suara. Laki-laki itu meneguk air hingga habis setengah. Dan sisanya diberikan kepada Alya. Alya menghabiskan sisa air dingin di botol kaca tersebut. Apa memang Jakarta sepanas ini ya sekarang?
Dua kakak-beradik itu akhirnya terduduk dalam diam. Alya entah mengapa sangat bingung ingin bertanya bagaimana, sementara Kenan terlihat serba ‘sembunyi’. Alya menunggu.
“Rejas—” satu kata meluncur dari mulut Kenan yang justru membuat Alya terkesiap. Rejas? Kenan tiba-tiba sekali!
“Kenapa, Kak?”
Terlihat Kenan mengatupkan bibirnya, seolah berat sekali kalimat yang akan dia luncurkan selanjutnya. Alya bersiap. “Dia masih menggangu Dru?”