DRU: Rasa Menuju Pulang

Titis nariyah
Chapter #9

GELAGAT TAK BIASA


Dapur Dru pagi hari yang wangi aroma bumbu terasi dan kencur dari megono, aroma gurih dari aneka balado ikan dan lauk-pauk lainnya, juga aroma segar dari sayur asem yang baru diangkat dari kompor, sudah mulai beroperasi. Dru sudah siap sedia di kasir lengkap dengan apronnya. Sementara, Nadia masih sibuk membersihkan meja-meja dan kursi.

Satu demi satu pelanggan datang saat Nadia sudah selesai dengan tugasnya. Kini, dia langsung mencuci tangan dan bersiap untuk melayani pelanggan. Beberapa karyawan kantor datang untuk membeli bekal makan siang, beberapa lainnya memilih minum kopi sambil menunggu waktu masuk kerja, juga ada beberapa ibu-ibu yang datang untuk sarapan. Ibu-ibu yang sudah pensiunan dan tinggal menikmati hari tuanya dengan menyaksikan anak cucu hidup rukun dan bahagia. Biasanya, mereka memang memilih jalan sehat untuk aktifitas paginya. Mereka akan berjalan lambat-lambat seolah usianya masih sangat panjang dan tidak dalam rangka mengejar hal-hal yang melelahkan di dunia ini. Mungkin mereka sudah bekerja keras sepanjang masa mudanya, atau memang mereka sudah kaya raya sejak lahir.

Dualisme. Ada orang yang terjebak dalam pusaran dimana mereka mati-matian bekerja untuk hidup. Sementara di garis takdir lainnya, ada orang yang sejak lahir sudah dilimpahi kekayaan hingga mereka tak pernah mendengar seperti apa tangis kelaparan, bagaimana bunyi token listrik yang habis, atau sesimpel mandi dengan menggunakan gayung berbentuk love.

Dru melayani pelanggannya dengan senyum sumringah. Kendati semalam dia pulang larut. Yang pasti kombinasi semua hal yang terjadi semalam membuatnya nyaman. Nyaman? Dru heran sendiri mengapa dia tiba-tiba mengeluarkan kosa kata yang lama tak pernah muncul itu? Nyaman.

Sedang asik melayani pelanggan yang sedang membayar makanannya, dua orang pelanggan masuk dan Nadia menyambut dengan sapaan pagi. Dru spontan menoleh ke arah pintu. Antoni dan Kavy. Pantes Nadia ceria betul. Dru hafal betul karyawannya sangat senang tidak keruan jika ada anggota dari keluarga Darmawangsa datang. Selain ramah, Antoni juga seganteng Evan Sanders semasa muda, jadi, ya sambil cuci mata begitu kata Nadia dan Arin suatu hari. Untung Arin belum masuk shift, jadi kehebohan cuma berasa dari Nadia yang tiba-tiba aktif ke sana kemari, bahkan rela hati menawari Antoni dan Kavy segala macam. Halah. Antoni pun setali tiga uang dengan karyawannya, tahu mereka mengaguminya, Antoni malah dengan jumawa menerima perlakuan istimewanya mereka. Klop!

Setelah mengambil menu sesuai selera, kedua pelanggannya itu menuju kasir.

“Pagi Mas-Mas pelangganku,”sapa Dru profesional dan ramah.

“Nurutin Kavy, nih, Dru pagi-pagi sudah kangen Dapur Dru, katanya,” goda Antoni sambil menyenggol bahu partner kerjanya yang hanya mesem-mesem  di sampingnya.

“Asik, pelangganku bertambah. Rajin-rajin ke Dapur Dru ya, Mas. Dijamin pulang kenyang, pikiran tenang.”

“Ha ha ha … bisaan emang orang bisnis, mah,” timpal Kavy.

Setelah selesai transaksi kasir, keduanya memilih meja tengah dan mulai sibuk dengan menu masing-masing. Baik Dru maupun Nadia juga tenggelam dalam tugasnya masing-masing. Sesekali Dru memergoki Kavy yang tengah mencuri pandang ke arahnya. Herannya, kenapa juga Dru mencuri pandang ke arah Kavy. Dru menggaruk alisnya salah tingkah. Terlihat setelah piring diletakkan ke meja tempat piring kotor berada, mereka lanjut duduk dan sibuk dengan laptop mereka. Tampak Kavy tengah sibuk menjelaskan sesuatu kepada Antoni, dan sesekali tampak keduanya adu pendapat hingga menemukan kesepakatan.

Pemandangan seperti ini sangat sering Dru lihat di kedainya. Itulah mengapa Dapur Dru tidak pernah sepi pelanggan, karena memang selain menunya enak dan bervariasi, juga tempat yang nyaman untuk diskusi, pendingin udara yang berfungsi baik, dan tentu saja bebas asap rokok!. 

 

Lihat selengkapnya