DRU: Rasa Menuju Pulang

Titis nariyah
Chapter #10

TIDAK AMAN

Rejas sudah berdiri sekitar lima belas menit untuk mengantre masuk pameran imersif dari Van Gogh. Selain karena ada tugas liputan menggantikan rekannya yang mendadak sakit, juga karena ini Gogh. Hal yang sangat disukai Dru. Hal yang sering Dru bicarakan dulu, hingga pernah suatu hari Dru bertekad untuk menabung dan ber’ziarah’ ke tempat-tempat yang pernah ditinggali seniman itu. Dahulu itu menjadi sebuah kebanggan buat Rejas bisa menemani hari-hari Dru dengan impian-impiannya. Kini, entah mengapa Rejas menjadi seperti orang linglung. Dia hampir menyesali semua yang pernah diucapkannya saat malam itu. Spontanitas yang menyisakan ruang kosong hingga kini.

Rejas juga entah mengapa secara tidak sadar memesan dua tiket untuk ini, seakan Dru bisa diajak kembali menyelami hari-hari bersamanya.

Kamu sudah mati bagiku!

Kata-kata itu seperti sembilu yang terus menancap di hati Rejas. Rejas belum melepas cincin pertunangannya. Rejas yakin, akan ada lagi kesempatan entah kapan. Dru bukanlah orang yang mudah berpaling. Dru sangat menyayanginya karena dialah yang menemani hari-hari beratnya. Begitu asumsi Rejas. Dia sudah berkeliling melihat semua imersif dari karya Gogh yang melegenda di pamrean itu. Di sana juga tersedia sebuah ruangan yang diperuntukkan kepada para pengunjung untuk turut menggambar karya sang maestro dengan sebuah video tutorial berada pada layar LCD di bagian paling depan. Rejas memotret momen di mana beberapa pengunjung mencoba ikut menantang diri menggambar ala-ala Van Gogh. Kendati ruangannya dibuat gelap, namun foto yang diambil Rejas tetaplah bagus dan terkesan hidup. Khas foto-foto dokumentasi seorang pewarta.

Di ruangan paling akhir, dia memilih memilih cendera mata serba Van Gogh yang memang untuk dijual. Kartu pos, kaos, tas, dan masih banyak lagi jenis cendera mata lainnya. Rejas secara intuitif mengambil tas bahu bergambar bunga matahari dan beberapa kartu pos, serta satu topi yang semuanya berencana untuk diberikan kepada Drupadi.

Semesta menjawab. Keinginan Rejas bertemu Dru langsung dikabulkan. Saat Rejas menuju pintu keluar, Dru juga beberapa langkah di depannya menuju pintu  yang sama. Rejas mengerjapkan matanya beberapa kali barangkali penglihatannya tentang Dru hanya delusi. Dru mulai agak menjauh, sementara antrean masih panjang. Rejas tak sabar dan beberapa kali permisi menyalip orang dengan agak tidak sopan. Beberapa orang yang merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Rejas, terdengar menggerutu, “Huh, tidak sopan!”, “Antre, Mas!” dan lain sebagainya. Dengan perasaan tidak enak, Rejas meminta maaf sambil lalu. Dia tidak mau kehilangan Drupadi.

Setelah berhasil keluar dari kerumunan, Rejas nyaris kehilangan Dru hingga dia melihat sosok itu menuju arah toilet. Rejas tak patah arang. Dia mengikuti ke arah Dru dan menunggu di luar toilet. Rejas merapikah bajunya, rambutnya, dan segala macam. Dia juga memastikan tas cendera mata yang baru saja dibelinya untuk Dru dalam keadaan aman.

Lihat selengkapnya