Drupadi menggenggam mug berisi cokelat panas yang tinggal separuh. Dru duduk di kursi kerja tak jauh dari ranjangnya. Di sana dia biasanya mengerjakan tugas-tugas tulisan atau lain-lain. Waktu baru pukul sembilan. Dru gelisah bukan kepalang. Dia sangat lelah sekali, tapi, entah mengapa matanya enggan terpejam. Di bawah, Nadia sepertinya tengah asik berbincang dengan Arin. Ya, Arin berjanji akan menginap malam ini. Entah akan menggarap proyek apakah muda-mudi itu. Karena ini malam Minggu, mungkin mereka berjanji akan jalan-jalan pagi untuk car free day di lingkungan sini esok paginya
Sejak pulang dari mal, Dru belum menyalakan kembali ponselnya. Dia lupa, seharusnya dia memberi kabar kepada Kavy dan meminta maaf atas sikapnnya yang sembrono tadi. Dru meletakkan mugnya di meja dan dia meraih ponselnya. Nahas, ternyata dayanya habis sama sekali. Bagaimana bisa Drupadi seteledor itu? Akhirnya dia menyambungkan ponselnya dengan pengisi daya, dan dia kembali berjibaku dengan pikirannya sendiri di kursi seperti semula.
Suara ketukan pintu kamar membuat Dru terkejut, terdengar suara Nadia menanyakan apakah Drupadi sudah tidur atau masih terjaga. Sontak, Dru bangkit dari duduknya dan berlari kecil ke arah pintu. Begitu pintu terbuka, Nadia dengan senyum lesung pipinya menyodorkan ponsel miliknya.
“Aji telepon, Mbak. Katanya menghubungi nomor Mbak Dru tapi enggak aktif?”
“Ya Tuhan, Nad. Aku kelupaan. Ternyata ponselku habis baterainya. Jadi ku-charge sekarang. Aku pinjam sebentar, ya, punyamu?” Tanpa ba bi bu, Nadia menyodorkan ponsel miliknya dan dia segera turun kembali ke kamar.
Dru kembali ke ranjang, dan kali ini dia membanting tubuhnya di sana. Dia memencet kontak Aji dan terhubung obrolan dengan adiknya. Lama sekali dirinya tidak ke Bandung, sementara Aji juga tidak pulang ke Jakarta. Aji sekarang meneruskan studinya untuk ambil Sarjana. Jadi, Dru maklum sekali jika adiknya sangat sibuk. Dia harus membagi waktu dan tenaga untuk kuliah dan kerja. Bukan berarti Dru membiarkan adiknya harus bekerja keras sendirian, namun, Aji menolak mentah-mentah uluran tangan Dru saat dirinya bertekad akan membiayai kuliah Aji. “Itu uang Mbak Dru. Simpan, belikan investasi, beli apa yang Mbak Dru suka, dan lain-lain. Ngapain malah mikirin Aji? Aji sudah dewasa, sudah bisa menghasilkan uang sendiri!” begitu dulu Aji merepet. Menolak dan keberatan. Akhirnya Dru dengan berat hati membiarkan adik semata wayangnya itu berjuang untuk dirinya sendiri dan masa depannya nun di kota Paris Van Java.
“Mbak kangen banget, deh, Ji. Kapan pulang?”
“Setelah tugas semester ini beres, Aji ke Jakarta, Mbak.”
“Kamu lancar kuliahnya, Ji? Kalau butuh apa-apa mbok ya ngomong dong ke Mbak, Ji.”
“Beneran?”
Dru langsung terduduk dan sangat senang akhirnya adik semata wayangnya membutuhkan bantuan. Dru sudah membayangkan, Aji butuh uang untuk biaya UKT atau semacamnya, pokoknya pasti Aji lagi butuh! “Beneran, Ganteeeng?! Kamu mau apa?”
“Cariin kakak ipar saja, Mbak. Yang sayang sama Mbak Dru, yang jagain Mbak Dru, yang bisa mengayom—”
“Ajii!!” Dru langsung memotong omongan Aji dan terdengar suara di seberang sana tengah terkekeh mendengar Drupadi kesal.
“Ya sudah, Mbak, jangan lupa istirahat. Aku nanti pulang. Sekarang mau nugas lagi, bye!”
“Jaga kesehatan ya, Ji. Mbak juga mau istirahat.” Sambungan terputus. Drupadi lega mendengar suara adiknya. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap. Entah kapan Aji tumbuh semakin dewasa, sedangkan dirinya tidak sepenuhnya mendampingi hidup Aji. Anggota keluarga yang semestinya dia lindungi dan bersamai, atas alasan dan keteguhan hati, memutuskan untuk menjalani kehidupan sendiri-sendiri, terpisah, di tempat asing, tanpa ayah dan ibunya. Pipi Dru basah oleh air mata.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh. Dru mengumpat dalam hati karena malam ini terasa sangat panjang. Tiba-tiba, dia berpikir untuk menginap di rumah Alya saja. Setelah menyambar jaket, dan memastikan riasan wajahnya sudah cukup, Dru tak lupa memakai tas selempang kesayangannya, menyurukkan ponsel yang sudah terisi daya seadanya, dompet, menyemprot parfum ke tubuhnya, lalu bergegas turun.
Nadia dan Arin tampak masih asik menonton tayangan drama dari gawai milik Nadia. Saat Dru mengembalikan ponsel dan bilang terima kasih, Dru sekalian pamit kepada kedua karyawannya, bahwa, dirinya akan ke rumah Alya dan menginap. Dru membuka aplikasi dan memesan taksi daring.