Setelah sotonya tandas, Dru kemudian mencuci perkakas yang digunakannya. Lalu, Drupadi berjalan ke arah Kenan yang sedang duduk santai di sofa. Terlihat gawai-nya sudah dimatikan. Artinya, tugas yang tadi dikerjakanannya telah selesai. Kenan sedang fokus ke layar ponselnya.
Saat melihat Dru mendekat, Kenan menaruh ponselnya di meja, dia memberi isyarat kepada Dru agar duduk di sisinya dengan menepuk-nepuk sofa. Dru pun menurut. Setelah kenyang, dan tenaganya habis hari ini karena suatu hal, Dru hampir tak punya tenaga untuk mengeluarkan suara. Jadi, dia hanya duduk di sisi Kenan dengan jarak yang tidak terlampau jauh.
“Enak sotonya?”
Dru hanya mejawab dengan mengacungkan dua jempolnya sambil tersenyum tipis. Keheningan kembali merayap. Kenan juga ikut terdiam seperti membiarkan keheningan menyelimuti keduanya. Hampir pukul dua. Mata Drupadi seperti tiba-tiba diberi energi penuh kembali. Kenan terlihat tengah memejamkan matanya. Namun, dari napasnya, jelas dia tidak tertidur. Dia masih terjaga. Kenan dan Dru mengistirahatkan kepalanya di sandaran sofa yang sangat empuk.
Drupadi menatap Kenan yang berada sejangkauan tangannya. Wajah tampan yang lebih sering terlihat tenang itu, semakin mengusik Drupadi. Menurut Dru, Kenan seperti dua jiwa dari Nakula dan Sadewa yang terperangkap dalam satu tubuh. Dahulu, saat masih kuliah, Kenan masih agak ceria dan terkadang jahil walau tetap misterius. Bahkan, berkat ketampanan dan kecerdasannya, Kenan direkrut untuk ikut organisasi kampus. Rekan-rekan di organisasi sering memberinya pujian, bahwa, laki-laki itu pandai mengatur strategi, memiliki wibawa, dan pandai membuat orang di sekitarnya merasa aman. Seperti Nakula.
Namun, semakin dewasa, sisi Kenan yang seperti itu ikut berangsur hilang ditelan usia. Tidak kemudian menjadi teramat dingin, namun, terkesan seperti Sang Penjaga Rahasia. Kendati Kenan selalu menjadi orang yang siap siaga untuk orang-orang yang disayanginya, namun tetap saja, dia seperti memiliki tabir pelindung tak kasat mata yang membungkus keseluruhan tubuhnya. Membuatnya sulit dibaca. Seperti Sadewa.
“Kemarin siang bagaimana Van Gogh-nya?” Drupadi sontak memalingkan mukanya saat Kenan bertanya. Dru seperti habis tertangkap basah tengah memandangi Kenan. Padahal, Kenan bertanya dengan mata tetap terpejam.
“Tidak berjalan lancar—” Drupadi tidak ingin bertindak seolah baik-baik saja. Dia menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Kenan yang mendengar jawaban Dru, membuka matanya dan menatap Dru dari samping. “Rejas di sana, dan—” Drupadi tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Tubuhnya merinding saat mengingat betapa takutnya ia saat di mal kemarin.
Kenan mendekat. Dia meraih tangan Dru yang terlihat gemetar. “Sepertinya, pikiranku rusak, deh, Mas.” Drupadi semakin menunduk. Suaranya bergetar. Dia kembali tersadar, alasan langkah kakinya sampai di rumah ini semalam, adalah karena dia tidak mau mengingat hal menyakitkan itu lagi. Kenan memeluk Drupadi. Tangis Dru pecah di dada Kenan. Dia tidak ingin sendirian. “Aku takut,” lirih Dru. Pelukan Kenan semakin erat.
***
Drupadi berakhir menginap dan tidur di kamar lamanya di rumah besar itu. Pagi ini situasi rumah lengang. Selain karena ini hari Minggu, juga, karena penghuni rumah memang sebagian besar sedang pergi: pasangan Darmawangsa masih di luar negeri, Alya di Bandung, sementara Antoni justru sudah sepekan di Australia dan besok baru mendarat di Jakarta. Tersisa para satpam, asisten rumah tangga, satu sopir, Kenan, dan tambahan anggota yang menginap, Drupadi.