DRU: Rasa Menuju Pulang

Titis nariyah
Chapter #13

CENDERA MATA

 

Kavy masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan masygul. Sejak dia menjemput Drupadi di rumah Antoni dan melihat kedekatan Dru dengan Kenan, Kavy merasakan hal lain. Kavy bukan sehari dua hari mengenal Kenan. Meskipun tidak dekat, dia juga tahu bagaimana Kenan biasanya. Juga, tadi ketika dirinya menjemput Drupadi, Kenan tidak menyambut seperti biasanya. Kenan seperti memberi jarak.

Terbit bara api di dada Kavy.

Bagi Kavy Aryatama, Drupadi jelas sudah sangat dekat untuk dijadikan miliknya. Tadinya, dia berencana mengutarakan perasaannya saat acara pameran kemarin. Sayangnya, entah karena alasan yang belum diketahui jelas oleh Kavy saat itu, Dru menghilang begitu saja. Awalnya, dia sangat panik memikirkan bahwa Dru kabur karena ‘kencan’nya tidak bagus. Namun, setelah Dru menjelaskan sedikit tentang situasi darurat dan Dru janji suatu saat akan menjelaskan lebih detail, keresahan Kavy mereda.

Kepergian Dru yang tiba-tiba waktu di mal, bukan karena dirinya.

Saat mengantar pulang dari rumah Antoni, komunikasi mereka pun lancar. Yang selalu dia kagumi dari Drupadi adalah, selain parasnya yang cantik, dia pandai mengimbangi obrolan apapun yang Kavy sediakan; sosial, politik, seni, bahkan hal-hal yang sangat remeh. Kavy semakin yakin, bahwa ada alasan suci mengapa Tuhan menghadirkan Dru di hidupnya.

Tapi ada Kenan.

Kavy seperti harus mulai mencari tahu bagaimana hubungan antara Kenan dan Dru. Mungkin dia bisa menggali informasi melalui bosnya, Antoni. Kali ini, Kavy tidak bisa dan tidak mau kehilangan kesempatan atau kalah cepat dengan laki-laki manapun yang mengincar Dru. Sekalipun yang dia hadapi adalah Kenan. Namun, bagaimana jika ini hanya prasangka Kavy? Bukankah memang Dru sangat akrab dengan semua anggota keluarga Darmawangsa? Kavy menjadi semakin gusar. Udara Jakarta siang hari benar-benar sumuk. Bahkan AC di kamar Kavy yang sudah disetel paling dingin pun, terasa tetap tak berfungsi. Memang udaranya yang gerah, atau bara api di dadanya yang belum padam?

Kavy disadarkan dengan getaran dari ponselnya, pertanda panggilan masuk. Diraihnya benda yang tergelatak di meja. Nama Drupadi terpampang di sana. Bergegas ia langsung memencet tombol terima.

“Maaf, Mas, aku ganggu tidak? Kamu sudah sampai?” suara di ujung sana terdengar hati-hati agak segan.

“Hai, Dru, enggak, kok, aku sudah santai di kamarku. Ada apa?”

“Ehm—kenapa Mas Kavy kasih aku merchandise Gogh lagi? Kan kemarin sudah?”

Kavy mengernyitkan dahinya. Perasaan dia tidak memberi barang apa-apa kecuali cendera mata yang kemarin di mal? Tapi— “Bukan aku, Dru.” tidak terdengar tanggapan apa-apa dari seberang saluran. Kavy melihat layar ponselnya, Dru masih dalam jaringan. “Halo? Dru?”

“Oh, iya, Mas. Anu, sepertinya ini dari kenalanku.” Suara Dru terdengar sedikit patah-patah seperti sedang menutupi sesuatu.

Lihat selengkapnya