Pindang tetel mrnjadi menu khusus pada hari Senin ini. Sejak sebelum subuh, Dru sudah berkutat dengan kompor-kompornya. Dia sendirian, sebelum Nadia bergabung selepas subuh. Dru memang akan memulai lebih pagi di hari Senin karena adanya menu khusus ini. Bagi sebagian orang, mendengar pindang tetel pasti terasa asing. Namun, jika melihat rupa masakannya, orang akan ngotot bahwa itu rawon. Dru bisa menjelaskan sebentar kesalahpahaman kecil tentang menunya ini. Pindang tetel adalah satu di antara makanan khas lainnya dari Pekalongan, selain megono, kluban bothok, dan lain-lain. Jika melihat sekilas, Dru juga setuju bahwa pindang tetel ini memiliki banyak kesamaan dengan rawon. Terutama dari bahan dasar bumbunya yang menggunakan keluak atau keluwek. Juga tentang bumbu dasarnya dan bumbu aromatiknya pun nyaris sama. Bedanya, mungkin di penyajian. Jika pindang tetel hanya disajikan begitu saja atau kadang ditambah dengan kerupuk pasir. Rawon lebih komplet. Ada telor asin dan tauge pendek yang menjadi pelengkap.
Dahulu, nenek Dru kadang mengganti daging sapi dengan kikil sapi. Itu hanya variasi dan improvisasi dari tangan neneknya. Jika mengikuti pakem, jelas menggunakan daging, sama halnya dengan rawon.
Dru masih ingat saat neneknya bercerita soal penyebutan tetel pada pindang tetel yang sampai sekarang masih banyak salah pengucapan. Konon, bahkan warga asli Pekalongan menyebut tetel dengan lafal 'e' seperti pada kata 'sambel'. jika begitu, tetel artinya adalah menumpuk dengan paksa. Sementara, tetel yang dimaksud dalam pindang tetel adalah tetelan atau irisan daging (terkadang bisa diartikan daging bagian sandung lamur). Jadi, pelafalan 'e' yang benar seperti pada kata 'ember'. karena pindang tetel berupa makanan berkuah yang berisi irisan daging yang direbus sebelumnya (di-pindang)
Alasan Senin ini menu khususnya pindang tetel dikarenakan Oma Nani, pelanggan setia kedai Dapur Dru memesan dalam jumlah lumayan banyak, seratus porsi, dari pesanan awal yang hanya lima puluh porsi. Kata Oma—begitu dirinya ingin disapa— akan ada arisan dan kumpul keluarga besar di rumahnya hari ini. Jadi, sekalian saja menu ini jadi menu khusus. Tidak hanya pindang tetel, Oma Nani juga memesan ayam goreng lengkuas, dan kentang balado untuk masing-masing seratus porsi. Dikarenakan pesanan akan diantar sekitar pukul sebelas siang, Dru sangat santai. Dia benar-benar sudah menguasai dapurnya sendiri, juga soal estimasi waktu.
Jika orang-orang mengira memasak hanya soal tenaga, mungkin perlu dipahami, bahwa memasak juga soal inisiatif, improvisasi, inovasi, dan kreasi yang semuanya dilebur jadi satu untuk menghasilkan makanan-makanan yang akan disajikan dan disantap. Sama halnya dengan hidup, seberapa lama pun seorang tukang masak berkutat dan mengenali dapurnya, bukan tidak mungkin bahwa ia bisa gagal. Dru juga bukan sekali-dua kali gagal dalam proses menjalani apa yang sekarang menjadi profesinya. Persis seperti manusia yang setiap hari sudah pandai berjalan sejak kecil. Bukan tidak mungkin ia akan terjatuh, mungkin tersandung, atau cedera. Namun, tekad Dru yang sekeras baja itu, selalu teguh, bahwa selama ia masih bisa berdiri, dia akan bangkit lagi dan lagi, sesering apapun dia jatuh.
Dru menumis bumbu untuk pindang tetel dengan tenang. Tungku api lainnya, tengah menanak nasi, mendidihkan air untuk karon, satu tungku dipasang dandang besar yang berisi daging untuk pindang tetel, sementara dua tungku lainnya, Dru pasang semua wajan untuk segala jenis tumisan dan lauk-pauk. Mudah bagi Dru menangani enam tungku api.
***
Senin yang padat. Pukul sembilan lebih empat puluh menit, semua pesanan Oma Nani sudah rapi dan siap antar. Mobil box yang hanya digunakan ketika mengantar menu katering sudah dipanaskan mesinnya dari pagi. Dru sendiri nanti yang akan mengantar ke rumah Oma Nani. Ini bukan pertama kalinya dia mengantar pesanan ke Oma Nani juga pelanggan lain yang memesan katering. Dapur Dru masih padat para pelanggan keluar-masuk. Nadia tampak gesit melakukan tugasnya. Sudah dikoordinasi juga bahwa hari ini, baik Arin maupun Dino diminta long shift dan masuk pukul sembilan guna membantu menu katering. Jadi, semua kegiatan kedai sangat kondusif. Dru yang sudah wangi dan rapi, siap mengantar pesanan.
Dino hilir mudik mengecek minuman, melayani pelanggan bersama Nadia, sementara Arin stand by di meja kasir. Dru yang berdiri di ambang pintu dapur, menyaksikan karyawannya dengan penuh rasa syukur. Jiwanya yang beberapa hari belakangan sempat merasa sedih dan kalut, menjadi tenang sebentar. Dru bersiap meluncur mengantar pesanan.
***