DRU: Rasa Menuju Pulang

Titis nariyah
Chapter #15

GEMA YANG MENGGANGGU

Selama orang tuanya mengambil cuti liburan, Kenan ditugasi oleh Dika untuk menjadi direktur utama sementara. Sedangkan Antoni, tetap pada posisinya, sebagai dewan pengawas. Biasanya, dia mengemban tugas itu dengan mamanya, Dinar. Sementara, Alya yang semula berada di cabang sebagai senior project officer, harus ditarik ke pusat untuk mendampingi Kenan. Semua berjalan sangat optimal dan selaras.

Dua pekan ini adalah waktu yang sangat sibuk bagi Darmawangsa Holdings. Adanya keputusan besar soal proyek yang sudah dimulai Dika, dan sekarang, tiba-tiba pihak bank meminta revisi keuangan. Kenan, dengan nasihat dari kakaknya, juga sambungan jarak jauh dengan orang tuanya, akhirnya mendapat jalan keluar untuk menerima revisian demi pendanaan proyek besar yang tengah berlangsung. “Kita berpacu dengan waktu, kalau jalan kita lamban, investor akan merasa bahwa kita wajib memberikan jaminan tambahan sebagai rasa aman atas uang mereka,” papar Dika dalam panggilan video yang dihadiri oleh semua anggota inti keluarga Darmawangsa.

Semua setuju dengan keputusan itu. Mufakat. Antoni melaporkan soal perkembangan desain dari proyek-proyek superblock yang harus dia bongkar ulang di beberapa bagian untuk menghemat pengeluaran, serta memutar otak supaya proyek tersebut tetap pada poros awal, “A City Within a City”. Sementara, Alya yang tetap harus terjun ke lapangan untuk inspeksi langsung, meyakinkan kepada semua anggota grup, bahwa, keadaan masih kondusif. pasokan material masih sesuai jadwal, walau ada sedikit kendala soal kenaikkan harga bahan baku, dan para pekerja serta pacuan waktu yang mereka khawatirkan, sejauh ini masih dalam batas aman.

Selesai.

Malam itu, tiga orang di rumah besar Darmawangsa dan dua lainnya di seberang benua, mengucap syukur karena mereka kompak dan saling mendukung. Mereka berlima berdoa untuk hal-hal baik yang semoga berpihak kepada mereka untuk proyek superblock ini. Dika dan Dinar tampak terharu dan mengucapkan terima kasih kepada ketiga anaknya yang semakin berkembang pesat. Terutama Alya, yang menurut Dika, sudah siap untuk dimutasi ke pusat, begitu ada posisi yang kosong dan tepat. “Ingat, Alya anak papa yang manis. Kamu tetap harus bekerja keras untuk masuk ke lini pusat. Kompetisinya tidak mudah. Papa, Mama, dan Kakak-Kakakmu hanya bisa membantumu berupa dukungan dan cinta,” nasihat Dika tampak serius.

Alya membuat pose hormat tanda setuju. Antoni yang berada di sampingnya, mengacak-acak rambut si bungsu dengan sayang. Setelah panggilan video berakhir, Antoni bergegas pamit ke ruang kerjanya karena masih banyak revisian, terdengar dia sibuk menghubungi Kavy entah menanyakan apa. Tersisa Kenan dan Alya yang tengah duduk santai, Kenan sesekali memijat pelipisnya yang agak pusing. Sementara Alya, sibuk menggulir layar ponselnya. Sempat ada jeda hening dengan kesibukan masing-masing sampai Alya angkat bicara, “Lama, ya, Kak enggak ke Dapur Dru?”

Kenan menyambut dengan mengangguk sambil jemarinya tetap sibuk di pelipisnya. Ada pikiran yang sempat terlupakan kini menyusup masuk di sela-sela kesibukannya. Kenan menyisir rambutnya dengan jari. Meletakkan kacamata bacanya dan merebahkan diri di sofa. Alya masih sibuk dengan ponsel. Mungkin, dia tengah berkirim pesan dengan pacarnya, Eza. Kenan sedang menimbang-nimbang tentang membicarakan suatu hal dengan Drupadi, tapi keraguan terus membelenggu kakinya. Dia terus ragu untuk maju dan berbagi, sementara hatinya takut jika kali ini, Dru pergi lagi dengan orang lain. Kenan mengacak-acak rambutnya sendiri dengan resah, “Haaaahhh!!” Alya terperanjat mendengar suara kakaknya yang keras seperti tengah melepaskan kekesalan.

Why?” Alya bertanya dengan alis saling bertaut dan bibir mengerucut.

Nothing.” jawab Kenan pendek, dia menyambar laptopnya, kemudian beranjk dari sofa. “Sleep well, Sweety,” Kenan mengecup ubun-ubun adiknya dengan sayang. Kemudian dia berlalu. "Aku mau ke luar sebentar."

 

***

 Dru baru saja akan naik ke kamarnya. Dia dan ketiga karyawannya baru saja melakukan technical meeting tentang rencana cuti yang akan dimulai pekan depan. Awalnya, Dru akan meliburkan kedai karena merasa kasihan dengan karyawannya jika ditinggal begitu saja. Namun, Nadia mengusulkan agar kedai tetap buka dan meminta Aji untuk datang. Itu karena Nadia tahu, memang Aji jatah pulang dan liburan semester. Karena Arin dan Dino mendukung usulan Nadia, akhirnya Dru mantab dengan keputusan pengawasan kedai akan dimandatkan kepada Aji selama masa liburnya. Lagi pula, Ini bukan pertama kali Aji dimandatkan hal demikian. Aji juga pandai membantu kedai seperti bagian bersih-bersih, kasir, atau mencuci piring kotor. Nantinya, Aji dan Dino yang akan menginap di kedai, sementara itu, Nadia akan ikut pulang ke tempat Arin. Selalu begitu formasinya jika Drupadi libur dan kedai tetap buka. Semua karyawannya juga sudah akrab dengan adiknya. Aman. Tidak akan ada yang menyalahi peraturan. Dru masih belum yakin akan ke mana, antara akan istirahat di Bandung, atau dia akan istirahat di rumah Alya. Dia juga rindu dengan sahabatnya yang selama dua pekan tidak terlihat karena sibuk di kantor pusat.

Setelah keputusan diambil dan kerumunan itu bubar, Dru segera ke kamarnya. Tubuhnya benar-benar semakin terasa lelah. Padahal, belakangan ini, situasi di kedai benar-benar stabil dan Dru juga tidak sedang menerima pesanan katering. Dru merasa, keputusannya untuk mengambil jeda sebentar sangat tepat. Baru sampai lantai dua, pesan masuk di ponselnya.

Lihat selengkapnya