DRU: Rasa Menuju Pulang

Titis nariyah
Chapter #16

KOTAK PANDORA?

Ada hari-hari yang tidak pernah terlupakan di keluarga Darmawangsa. Seperti pada suatu hari yang semua orang di rumah megah itu bahagia. Salah satunya, karena personel termuda baru saja wisuda dan merampungkan jenjang sarjananya. Karena situasi pandemi yang belum juga mereda, si bungsu harus rela hati merayakan wisudanya secara virtual sebagaimana keputusan pemerintah. Alya tampak tidak masalah dengan itu, meskipun biasanya, Alya mungkin akan heboh menyiapkan segala tetek bengek agar hari besarnya istimewa dan berkesan. Namun, terlihat Alya masih tetap gembira menerima apapun yang menjadi keputusan besar pemerintah demi penanggulangan wabah. Baginya, asal semua keluarganya masih sehat dan masih bersama-sama dengan mereka di satu atap, Alya akan sangat bersyukur.

Setelah pesta kecil-kecilan berupa makan malam bersama beserta seluruh penghuni rumah, termasuk para pekerja, sekarang semuanya kembali kepada aktivitas masing-masing. Dika, Dinar, dan Alya tampak sedang santai di ruang teve, Antoni dan Kenan, seperti laki-laki lajang pada umumnya yang sibuk dengan kamar serta gimnya.

Dinar kemudian menghampiri dua putranya yang tengah asyik dengan Play Station. Mereka diimbau untuk berkumpul karena ada yang akan Dika sampaikan. Tanpa menunda, kedua putranya mengikuti langkah Dinar menuju ruang teve. Dika menyambut keduanya dengan senyum manis. Ada beberapa dokumen dan sebuah kotak tertutup yang tergeletak di meja. Antoni mengangkat alisnya kepada Alya seolah bertanya “Ada apa?”, yang ditanya hanya mengangkat bahu, tanda sama-sama tidak tahu. Kenan tidak mempunyai praduga apa-apa.

Dinar dan Dika duduk bersisian. Alya dan Kenan setali tiga uang. Mereka duduk di sisi satunya lagi. Sementara Antoni, khas anak sulung yang alam bawah sadarnya lebih suka duduk terpisah, jadi, dia duduk di sisi lainnya lagi. Sofa panjang dengan letter U itu, kini punya penghuni masing-masing.

Kenan merentangkan lengan kanannya untuk Alya merebah di bahunya. Pandangan Dinar menyusuri satu demi satu ke tempat anak-anaknya duduk, lalu, berhenti lama di sofa dimana Alya dan Kenan duduk dengan lengket, akur, seperti adik-kakak yang enggak terpisah. Tiba-tiba mata Dinar berkaca-kaca melihat anak-anaknya sangat rukun.

“Ma, ada apa? Ada yang sakit?” melihat mamanya hampir menangis di hari yang sebenanrya banyak kabar gembira, membuat hati kecil Alya takut. Kenan dan Antoni merasakan hal yang sama, namun, seperti laki-laki kebanyakan, keduanya lebih memilih menahan. Menunggu ….

“Alya,” Dika menyebut nama si bungsu kemudian berdeham. Sang kepala keluarga tampak sedang membersihkan kerongkongannya agar pidatonya lancar? Bukan, tapi, memang memberi kesan bahwa apa yang akan dikatakannya malam itu, sungguh berat dan tenggorokannya sempat tersekat. “sekali lagi, selamat, ya, sudah jadi sarjana. Jangan sombong, tetap jadi putri Papa yang keren dan cantik.”

Alya beranjak dari sandaran bahu Kenan, mendekat ke arah Dika dan memeluk papanya erat. “Alya bersyukur jadi anak Mama dan Papa.” Dinar mengelus punggung Alya yang masih memeluk papanya. Itu bukan pelukan yang lama. Karena beberapa detik kemudian, Alya sudah kembali ke tempatnya semula. Bahu Sang Sabuk Hitam. 

“Antoni, yang selalu berusaha tanpa cela menjadi figur kakak yang baik, benteng pertahanan kedua untuk keluarga, dan sudah membantu Papa di kantor. Maaf ya, Ton, kalau semua tugas untuk kamu berat.” Kali ini pandangan Dinar dan Dika ke arah Antoni.

I'm grateful that Mama and Papa trusted me and loved me unconditionally.” Alya dan Kenan yang mendengar jawaban kakaknya langsung mengangguk tanda setuju dan idem.

Sekarang Dinar dan Dika mengalihkan pandangannya kepada si tengah. Kenan. Kenan bahkan lupa jika dirinya belum disebut, jika menurut hierarki usia, jelas kedua orang tuanya sengaja mengambil nama secara acak.

Lihat selengkapnya